Media Kampung – Iran resmi menghentikan seluruh negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dan mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel di Lebanon dan Gaza. Keputusan ini diumumkan oleh kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran pada awal Juni 2026.

Penutupan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia, dipandang sebagai langkah untuk memberi tekanan kepada Israel dan sekutunya. Selain itu, Iran juga berencana mengaktifkan tekanan di jalur pelayaran internasional lain, yakni Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Dalam pernyataan resmi, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan dialog dengan AS hingga Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah pendudukan di Lebanon dan menghentikan operasi militer di Lebanon serta Gaza. Ini menjadi respons atas serangkaian serangan militer Israel yang semakin intensif di Lebanon, terutama terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Menanggapi ketegangan yang meningkat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata berlaku di semua lini konflik, termasuk di Lebanon. Ia menyatakan bahwa pelanggaran di satu wilayah berarti pelanggaran di seluruh lini dan menyalahkan AS serta Israel atas konsekuensi dari setiap pelanggaran tersebut.

Langkah Iran menghentikan komunikasi dengan AS melalui mediator dan ancaman penutupan Selat Hormuz langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia, menjadi rute utama ekspor minyak mentah.

Selain itu, Iran memberikan perlakuan khusus kepada kapal-kapal dagang dan tanker dari negara-negara strategis seperti China dan Rusia saat melintas di Selat Hormuz. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa kedua negara tersebut mendapatkan hak istimewa karena dukungan politik dan kerja sama mereka selama masa-masa sulit Iran.

Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang mengalami kebuntuan. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengadakan pertemuan di Gedung Putih untuk mempertimbangkan kesepakatan dengan Iran guna menghentikan konflik, namun pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan final. Dalam beberapa hari terakhir, serangan antara AS dan Iran kembali meningkat, mengikis gencatan senjata yang sudah rapuh.

Di saat yang sama, Israel memperdalam serangannya di Lebanon Selatan dan mengancam akan melanjutkan tindakan militer besar di Beirut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai Hizbullah sebagai bagian dari operasi militernya.

Ancaman Iran menutup Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Selat Bab el-Mandeb adalah jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan Terusan Suez, sehingga penutupan atau gangguan di sana dapat mempengaruhi perdagangan internasional secara luas.

Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan kegagalan diplomasi, risiko konflik yang lebih luas serta dampak ekonomi global semakin membayangi. Iran menegaskan hak penuh atas keputusan terkait Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah perairannya yang strategis, menolak intervensi pihak luar atas kebijakan tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.