Media KampungJerman pada Sabtu (2/5/2026) menyerukan negara‑negara Eropa untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan setelah Amerika Serikat mengumumkan penarikan 5.000 pasukan dari Jerman. Seruan ini mencerminkan kekhawatiran NATO akan berkurangnya kehadiran militer Barat di kawasan.

Pentagon mengumumkan pada Jumat (1/5) bahwa penarikan tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dan diperkirakan selesai dalam rentang enam hingga dua belas bulan. Pengurangan pasukan mencakup unit tempur, logistik, serta staf pendukung yang selama ini beroperasi di pangkalan-pangkalan strategis Jerman.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan, “Kami, orang‑orang Eropa, harus mengambil lebih banyak tanggung jawab atas keamanan kami sendiri,” menambahkan bahwa Jerman berada di jalur yang tepat dengan memperluas angkatan bersenjata, mempercepat pengadaan militer, dan membangun infrastruktur pertahanan baru. Pernyataan tersebut menggarisbawahi komitmen Berlin untuk menutup kesenjangan yang ditinggalkan AS.

Data dari Defense Manpower Data Center menunjukkan bahwa pada akhir Desember 2025 terdapat 36.436 personel aktif Amerika Serikat yang ditempatkan di Jerman, menjadikan negara itu basis terbesar AS di Eropa. Dari total tersebut, 5.000 personel akan dipindahkan atau kembali ke Amerika Serikat dalam periode yang ditetapkan.

Pentagon tidak menyebutkan pangkalan spesifik yang akan terdampak, sekaligus belum mengonfirmasi apakah pasukan yang ditarik akan dikerahkan ke wilayah lain di Eropa atau kembali ke tanah air. Ketidakjelasan ini menimbulkan spekulasi mengenai penyesuaian strategi militer Amerika di wilayah Atlantik Utara.

Presiden AS Donald Trump, yang sejak awal masa jabatan menekankan perlunya mengurangi kehadiran militer di Eropa, kembali menegaskan komitmennya dengan menambah tarif mobil dan truk Uni Eropa dari 15 persen menjadi 25 persen. Kebijakan tersebut dipandang sebagai tekanan tambahan pada hubungan transatlantik yang sudah memanas akibat perselisihan tentang perang di Timur Tengah.

NATO, melalui juru bicara Allison Hart, menyatakan kesiapan aliansi untuk bekerja sama dengan Washington dalam memahami detail keputusan penarikan pasukan. NATO menekankan bahwa penyesuaian ini menyoroti pentingnya investasi Eropa dalam pertahanan bersama demi menjaga stabilitas kawasan.

Pistorius menambahkan bahwa Jerman sedang memperkuat program modernisasi alutsista, termasuk akuisisi pesawat tempur generasi berikutnya, sistem pertahanan udara, serta peningkatan kemampuan siber. Upaya tersebut diharapkan dapat menutupi celah operasional yang muncul setelah penarikan pasukan AS.

Latar belakang ketegangan antara AS dan Jerman meliputi perselisihan tarif serta perbedaan kebijakan terkait konflik Iran. Trump menuduh Iran mempermalukan Washington dalam perundingan, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik pendekatan militer AS di Timur Tengah.

Pengurangan kehadiran militer Amerika dipandang mempercepat proses transformasi pertahanan Eropa, memaksa negara‑anggota NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan sesuai target 2 persen PDB. Analisis para pakar menilai bahwa langkah ini dapat memperkuat kemandirian keamanan Eropa dalam jangka panjang.

Secara finansial, pemerintah Jerman berencana menyalurkan sebagian anggaran tambahan ke proyek-proyek pertahanan domestik, termasuk pengembangan teknologi rudal hipersonik dan kapal selam kelas baru. Investasi tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas pertahanan maritim Jerman di Laut Baltik dan Laut Utara.

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang penolakan atau dukungan terbuka dari parlemen Jerman terhadap keputusan penarikan pasukan AS, namun perdebatan publik mencerminkan keprihatinan tentang keamanan regional. Pemerintah menekankan perlunya solidaritas antarnegara Eropa untuk mengatasi tantangan bersama.

Dengan penarikan 5.000 tentara Amerika yang akan selesai paling lambat akhir 2027, Jerman dan sekutunya di Eropa diharapkan menyelesaikan rencana alokasi sumber daya pertahanan baru dalam beberapa bulan mendatang. Pengembangan kebijakan ini menjadi indikator utama arah keamanan transatlantik pasca‑penarikan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.