Media Kampung – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Muscat pada Minggu 26 April 2026, usai singgah Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan agenda diplomatik menurunkan ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kunjungan singkatnya ke Oman berlangsung selama beberapa jam sebelum melanjutkan penerbangan ke Moskow, menandai rangkaian perjalanan maraton yang menegaskan posisi Tehran sebagai mediator regional.
Di Muscat, Araghchi bertemu Sultan Haitham bin Tariq, keduanya menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata yang disepakati pada 8 April meski masih rapuh.
Pembicaraan difokuskan pada mekanisme pengawasan gencatan senjata, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta upaya menurunkan intensitas serangan di wilayah perbatasan.
Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima produksi minyak dunia, menjadi titik krusial karena penutupan parsial oleh Iran dan blokade oleh Amerika Serikat.
Iran melalui perantara Pakistan mengirimkan pesan tertulis kepada Washington, menegaskan garis merah terkait program nuklir dan akses pelayaran, namun menolak bahwa pesan tersebut merupakan tawaran negosiasi formal.
Pihak Amerika menanggapi dengan pernyataan bahwa mereka tetap membuka saluran komunikasi, tetapi menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok militan dan mematuhi resolusi PBB.
Rusia diprediksi akan memainkan peran strategis pada pertemuan berikutnya antara Araghchi dan Presiden Vladimir Putin, karena Moskwa memiliki hubungan dekat dengan Tehran dan pengaruh global yang signifikan.
Konflik yang memuncak pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat‑Israel ke pangkalan militer Iran di Timur Tengah masih belum menemukan titik akhir.
Kenaikan harga minyak mentah dunia mencapai 5 persen dalam 24 jam terakhir, sementara pasar saham AS mengalami penurunan karena kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Negara-negara Uni Eropa serta PBB menyerukan penurunan eskalasi, namun perbedaan kebijakan antara Washington dan Moskow memperumit upaya mediasi.
Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi, pengakuan atas haknya mengendalikan Selat Hormuz, dan penangguhan pembicaraan nuklir hingga keamanan regional terjamin.
Para pengamat menilai bahwa keberhasilan diplomasi tergantung pada kemampuan Tehran dan Washington untuk menemukan kompromi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak tanpa menurunkan posisi strategis masing‑masing.
Saat ini, gencatan senjata masih berlaku secara terbatas, jalur pelayaran sebagian terbuka, dan agenda pertemuan selanjutnya dijadwalkan di Moskow pada Senin 27 April 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan