Media Kampung – Jakarta, 27 April 2026 – Belanja senjata dunia mencatat rekor tertinggi pada 2025, menandai peningkatan berkelanjutan yang dipicu konflik geopolitik.
Data terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan total pengeluaran militer mencapai 2,887 triliun dolar AS, setara sekitar 49,9 kuadriliun rupiah, meliputi kapal, pesawat, rudal, dan peralatan lainnya.
Peningkatan utama berasal dari kawasan Eropa, yang mencatat kenaikan 14 persen menjadi 864 miliar dolar, mencerminkan kekhawatiran negara‑negara Uni Eropa terhadap ancaman Rusia dan ketidakstabilan regional.
Spanyol melaporkan lonjakan anggaran pertahanan sebesar 50 persen, Polandia 23 persen, dan Italia 20 persen, menandai pergeseran prioritas keamanan pasca‑perang Dingin.
Jerman menempati peringkat keempat secara global dengan anggaran 114 miliar dolar, naik 24 persen dan melebihi ambang NATO 2 persen PDB, berkat revisi aturan fiskal yang mengeluarkan pembiayaan pertahanan dari batas utang ketat.
Amerika Serikat mencatat pengeluaran 954 miliar dolar, turun 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, disebabkan oleh penolakan Kongres terhadap bantuan militer tambahan untuk Ukraina.
Konflik yang berlangsung di Ukraina, Gaza, dan Sudan menjadi faktor pendorong utama, menambah tekanan pada kebijakan pertahanan banyak negara.
“Ini benar-benar mencerminkan respons negara‑negara terhadap perang yang masih berlangsung,” kata Xiao Liang, peneliti program pengeluaran militer SIPRI.
SIPRI memperkirakan tren kenaikan belanja senjata akan berlanjut hingga 2026, seiring dengan rencana jangka panjang yang telah dikunci oleh pemerintah di seluruh dunia.
Dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda, negara‑negara terus menyesuaikan alokasi anggaran untuk memperkuat kapabilitas militer, menjadikan belanja senjata sebagai indikator utama stabilitas internasional saat ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan