Media Kampung – Netanyahu kutuk aksi prajurit IDF yang merusak patung Yesus di Lebanon selatan, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima oleh pemerintah Israel dan umat Kristen internasional.
Insiden terjadi pada 19 April 2026 di desa Debl, sebuah komunitas Kristen di perbatasan selatan Israel-Lebanon, ketika dua anggota unit militer menundukkan kepala patung Yesus dan salah satunya merekam aksi tersebut, lalu menyebarkannya melalui media sosial.
Video tersebut menjadi viral dalam hitungan jam, ditonton oleh lebih dari lima juta pengguna di platform X dan Facebook, memicu kecaman keras dari warga internasional dan memaksa pemerintah untuk segera menanggapi.
Benjamin Netanyahu dalam sebuah unggahan resmi di X pada 20 April 2026 menuliskan, “Saya mengutuk tindakan itu dengan sekeras-kerasnya, otoritas militer akan mengambil tindakan disiplin yang keras terhadap pelaku, dan kami meminta maaf kepada seluruh umat Kristen di Lebanon dan dunia.”
Netanyahu menambahkan bahwa hukuman tegas akan diberlakukan, termasuk pemecatan dari tugas tempur dan penahanan, sebagai contoh konkret penegakan nilai moral dan etika militer Israel.
IDF mengonfirmasi bahwa kedua prajurit telah diberhentikan dari penugasan aktif dan dijatuhi hukuman penjara militer selama 30 hari, sementara enam anggota lain yang berada di lokasi namun tidak melaporkan insiden akan diproses secara terpisah.
Selain hukuman penjara, militer Israel mengganti patung yang rusak dengan replika baru yang terbuat dari bahan perak dan emas, dipasang pada malam hari sebagai upaya memperbaiki kerusakan simbolik yang terjadi.
Pihak militer juga menyatakan akan meningkatkan pengawasan internal, memperketat pelatihan tentang sensitivitas budaya dan agama, serta menambahkan modul khusus dalam kurikulum pelatihan dasar IDF.
Reaksi tokoh agama Kristen setempat, termasuk Pastor Fadi Falfel, menekankan pentingnya permintaan maaf resmi dan penegakan keadilan, menyatakan bahwa tindakan vandalisme menodai nilai kemanusiaan yang dijunjung oleh semua pihak.
Kelompok internasional hak asasi manusia mencatat bahwa insiden ini menambah daftar pelanggaran terhadap situs keagamaan oleh militer Israel, menuntut investigasi independen dan transparansi penuh.
Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, menyampaikan keprihatinan mereka melalui pernyataan diplomatik, menyerukan agar Israel menegakkan standar internasional dalam perlindungan warisan budaya.
Hingga kini, situasi di Desa Debl telah kembali tenang, dengan patung baru yang telah dipasang dan dialog antar komunitas yang terus berlanjut, sementara otoritas Israel menjanjikan pemantauan berkelanjutan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan