Media Kampung – 15 April 2026 | Kapal induk Amerika Serikat USS George H.W. Bush berlayar mengelilingi Afrika selatan setelah menolak melewati Selat Gibraltar, guna menghindari potensi serangan milisi pro‑Iran sebelum menuju Timur Tengah. Keputusan ini diambil pada 13 April 2026 setelah blokade di Selat Hormuz diumumkan.

Rute baru menyeberangi Samudra Atlantik, melintasi Tanjung Kapp, kemudian menuruni pantai barat Afrika hingga melintasi Samudra Hindia menuju Teluk Aden. Kapal tidak menggunakan Terusan Suez, Laut Merah, maupun Selat Bab el‑Mandeb, yang biasanya menjadi jalur utama armada Barat.

USS George H.W. Bush, kapal induk kelas Nimitz berdaya nuklir, mengangkut lebih dari 30 pesawat tempur dan sejumlah kapal pendamping, termasuk kapal perusak dan kapal penyangga logistik. Kapal ini menjadi unit ketiga yang dikerahkan ke kawasan Teluk Persia sejak peningkatan ketegangan dengan Iran.

Menurut pejabat pertahanan yang dikutip USNI News, “Kami memilih rute Afrika untuk meminimalkan risiko serangan dari milisi yang didukung Iran, terutama kelompok Houthi di Yaman”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keamanan kru dan peralatan menjadi prioritas utama.

Operasi tersebut dinamai “Operation Epic Fury” dalam laporan Wall Street Journal, yang menargetkan penempatan pasukan laut AS di wilayah Arab untuk menanggapi eskalasi konflik dengan Tehran. Rute alternatif dipilih untuk memastikan kapal induk dapat bergabung dengan kekuatan angkatan laut yang terus bertambah di Laut Arab.

Blokade di Selat Hormuz mulai berlaku pada 13 April 2026 pukul 10.00 ET, setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah untuk menghentikan semua kapal yang tidak mendapatkan izin khusus. Blokade ini bertujuan menutup akses pelabuhan Iran dan menekan Tehran dalam negosiasi.

Kelompok milisi Houthi, yang menerima dukungan material dari Iran, telah meluncurkan serangkaian rudal ke wilayah Israel dan mengancam jalur pelayaran di Laut Merah. Ancaman tersebut menjadi faktor utama bagi AS untuk menghindari Selat Bab el‑Mandeb yang sempit dan strategis.

Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan berada di lepas pantai timur Teluk Oman, sekitar 200 kilometer selatan perairan Iran, sebagai bagian dari penempatan kekuatan tambahan. Dua kapal perusak yang membawa rudal permukaan‑ke‑udara juga dikerahkan untuk memperkuat pertahanan udara di kawasan.

Negosiasi antara Washington dan Tehran pada awal April 2026 gagal mencapai kesepakatan, memicu keputusan militer yang lebih agresif. Pejabat AS menyatakan bahwa blokade dan pergerakan kapal induk merupakan respons terhadap kegagalan diplomatik tersebut.

Para ahli maritim memperingatkan bahwa gangguan di Selat Bab el‑Mandeb dapat menambah tekanan pada jalur perdagangan global, mengingat selat tersebut mengendalikan sekitar 10 persen lalu lintas minyak dunia. Penutupan atau penundaan di wilayah ini dapat memicu kenaikan harga energi internasional.

Saat ini, USS George H.W. Bush masih berada di perairan lepas pantai Mozambik, dengan perkiraan tiba di perairan Teluk Persia pada akhir pekan mendatang. Kapal akan bergabung dengan armada yang sudah berpatroli di Laut Arab untuk menyiapkan operasi lanjutan.

Kondisi cuaca laut diperkirakan stabil, namun otoritas militer tetap menekankan kesiapsiagaan tinggi terhadap potensi serangan mendadak dari milisi pro‑Iran. Semua langkah diambil untuk memastikan keberhasilan misi tanpa menimbulkan eskalasi lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.