Media Kampung – 14 April 2026 | Dunia berada pada ambang krisis setelah kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, sementara putra Banten menyerukan persatuan nasional dan menekankan pentingnya mengawal langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi dinamika geopolitik.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan kekecewaannya atas hasil pertemuan di Islamabad pada 13 April 2026 dan mengajak semua umat beragama serta elemen bangsa untuk bersatu memperjuangkan perdamaian dunia, selaras dengan seruan Paus Leo XIV yang menekankan dialog antarbangsa.

KH Yahya menegaskan bahwa Indonesia, melalui pemerintah dan Presiden Prabowo, harus mengambil peran aktif dalam menggalang dukungan internasional untuk menghentikan kekerasan, memfasilitasi jalur damai, serta memberikan bantuan kepada korban sipil dan mitigasi dampak ekonomi yang meluas.

“Kami meminta Pemerintah Indonesia dan Presiden Prabowo untuk menggalang desakan internasional demi dihentikannya kekerasan dan mempercepat proses perdamaian,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada Senin, 13 April 2026.

Pertemuan sebelumnya antara Gus Yahya dan Kardinal Ignatius Suharyo pada 10 April 2026 menghasilkan komitmen kerja sama lintas agama untuk memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat akar rumput, yang dijelaskan oleh Alissa Wahid, Ketua PBNU, sebagai upaya meningkatkan daya tahan nasional di tengah ketidakpastian global.

Putra Banten, yang dikenal aktif dalam organisasi pemuda, menambahkan bahwa persatuan bangsa menjadi faktor kunci dalam mengawasi kebijakan strategis Presiden Prabowo, terutama dalam bidang keamanan, energi, dan diplomasi, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung kebijakan tersebut secara konstruktif.

Ia menegaskan, “Kita harus bersama-sama mengawal langkah strategis Presiden Prabowo agar kebijakan yang diambil dapat menstabilkan situasi domestik sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam arena internasional,” sambil menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan organisasi keagamaan.

Data resmi menunjukkan bahwa sejak kegagalan perundingan AS-Iran, lebih dari 30 negara telah menyatakan keprihatinan mereka melalui pernyataan bersama di PBB, sementara Indonesia secara resmi menawarkan diri sebagai mediator tambahan, memperkuat reputasi diplomatik yang telah dibangun sejak era sebelumnya.

Situasi terkini menunjukkan bahwa upaya diplomasi masih berlanjut, dengan delegasi Indonesia dijadwalkan melakukan kunjungan ke Islamabad pada akhir April 2026 untuk membahas kembali agenda perdamaian, sementara putra Banten dan tokoh masyarakat terus memantau pelaksanaan kebijakan strategis Presiden Prabowo demi menjaga stabilitas nasional dan menghindari eskalasi konflik lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.