Media KampungFairuz A Rafiq menegaskan pentingnya batasan keluarga suami dalam rumah tangga melalui film terbarunya yang berjudul “Keluarga Suami Adalah Hama”.

Film tersebut dirilis pada 27 April 2026 dan menyoroti dinamika konflik antara istri baru dengan keluarga besar suami yang berpotensi mengganggu keharmonisan pasangan.

Dalam wawancara di Cilandak, Jakarta Selatan, Fairuz menyampaikan bahwa respons publik mencapai ratusan komentar yang mengidentifikasi diri mereka dengan tema film.

Ia menambahkan bahwa meskipun film menampilkan drama mertua dan ipar, kehidupan pribadinya jauh lebih tenang karena suami dan keluarga suami bersikap suportif.

Fairuz menekankan bahwa rezeki dalam pernikahan tidak hanya berupa materi, melainkan juga keberadaan keluarga suami yang baik dan tidak menuntut.

Menurutnya, batas wajar campur tangan keluarga terletak pada penghormatan terhadap otoritas suami sebagai kepala rumah tangga dan istri sebagai wakilnya.

Ia menyarankan pasangan yang baru menikah sebaiknya memiliki tempat tinggal mandiri untuk menghindari tekanan eksternal yang tidak perlu.

Fairuz mencontohkan bahwa rumah yang terpisah dapat meminimalisir konflik yang muncul akibat tuntutan ekonomi atau tradisi keluarga besar.

Karakter utama dalam film, Intan, digambarkan tertekan ketika harus tinggal bersama keluarga suami yang tengah mengalami kesulitan keuangan.

Intan merasakan pergeseran peran dari istri menjadi pembantu karena tuntutan keluarga yang tak berujung, mencerminkan realitas yang ingin diangkat Fairuz.

Fairuz berharap penonton dapat memahami pentingnya menetapkan batasan sehat antara keluarga inti dan keluarga besar dalam konteks pernikahan.

Ia menuturkan bahwa pengalaman pribadi dalam mengatasi kegagalan dan meraih kebahagiaan menjadi inspirasi bagi banyak pasangan yang mencari resep rumah tangga bahagia.

Penyutradaraan film ini dipercayakan kepada Anggy Umbara, dengan Fairuz sebagai produser eksekutif yang mengawasi pesan sosial yang disampaikan.

Fairuz menegaskan bahwa film tidak bermaksud menjelekkan seluruh keluarga suami, melainkan mengajak refleksi atas dinamika yang sering terabaikan.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan suami dan ipar yang positif merupakan bentuk rezeki yang tak ternilai bagi seorang istri.

Dalam konteks budaya Indonesia, peran keluarga besar sering kali menjadi faktor penentu keputusan rumah tangga, sehingga penetapan batasan menjadi krusial.

Fairuz menutup wawancara dengan harapan bahwa filmnya dapat memicu diskusi publik mengenai kemandirian pasangan muda dalam mengelola rumah tangga.

Sejak premier, film tersebut mendapat pujian atas keberaniannya mengangkat isu sosial yang jarang diangkat dalam sinema Indonesia.

Keberhasilan film ini menegaskan posisi Fairuz A Rafiq tidak hanya sebagai aktris, tetapi juga sebagai penggiat perubahan sosial melalui karya seni.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.