Media Kampung – Ronce melati Syifa Hadju yang terinspirasi dari serial Bridgerton menjadi sorotan utama dalam prosesi siraman pernikahannya, memicu tren baru di kalangan calon pengantin.
Acara siraman berlangsung pada 24 April 2026 di Jakarta, menampilkan kebaya tradisional Jawa yang dipadukan dengan cape ronce melati berhiaskan kristal Swarovski, hasil karya desainer Didier Maulana.
Didier menciptakan ronce melati dengan bentuk drapery yang menjuntai hingga dada, meniru siluet busana era Regency, sekaligus menambahkan untaian melati segar yang mengelilingi bahu.
Penggunaan kristal Swarovski memberikan kilau mewah, menjadikan cape terlihat seperti jubah bangsawan Victoria yang elegan, sekaligus tetap menghormati nilai tradisi Jawa.
Desain tersebut langsung viral di media sosial setelah foto-foto Syifa dibagikan, mendapatkan ribuan komentar yang memuji keunikan dan keanggunannya.
Warganet pun mulai menyalin gaya tersebut, sementara banyak makeup artist dan perajin ronce melati mengajukan pertanyaan kepada Didier tentang kemungkinan duplikasi.
Didier menanggapi melalui unggahan Instagram pada 26 April 2026, menyatakan bahwa semua orang dipersilakan meniru desain asalkan menambahkan sentuhan pribadi.
“Boleh banget, silakan diduplikasi dan kembangkan dengan ide baru,” kata Didier dalam captionnya, menekankan pentingnya kreativitas dalam melestarikan warisan budaya.
Ia menambahkan bahwa desain ini diharapkan dapat meningkatkan minat terhadap kerajinan ronce melati tradisional serta membuka peluang ekonomi bagi perajin lokal.
Menurut sumber, proses pembuatan ronce melati tersebut memakan waktu dua minggu, melibatkan pemilihan melati segar, penataan anyaman khusus, dan penambahan kristal berwarna tujuh.
Setiap kristal dipilih untuk melambangkan tujuh sumber air siraman, menambah makna simbolis pada busana yang dikenakan Syifa.
Syifa Hadju sendiri menyatakan bahwa ia menggemari estetika Bridgerton sejak lama, dan berharap busana tersebut dapat menyatukan nuansa klasik Inggris dengan tradisi Jawa.
Desainer Didier menegaskan bahwa pemilihan warna biru langit pada kebaya terinspirasi dari pilihan warna pasangan pengantin, El Rumi, sehingga menciptakan harmoni visual.
Acara siraman tidak hanya menampilkan ronce melati, tetapi juga dilengkapi dengan busana dodot dan beskap tradisional yang dirancang secara serupa, menegaskan konsep modern-tradisional.
Setelah prosesi siraman, foto-foto Syifa dengan ronce melati terus beredar, menjadi referensi bagi calon pengantin yang mencari inspirasi busana pernikahan unik.
Beberapa perajin melaporkan peningkatan permintaan khusus untuk ronce melati bergaya Regency, termasuk permintaan penambahan batu permata lain sesuai selera klien.
Industri busana tradisional Jawa diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan signifikan berkat tren ini, dengan estimasi kenaikan penjualan aksesoris tradisional mencapai 20% pada kuartal berikutnya.
Media lokal dan nasional, termasuk Suara.com dan Popmama, menutup liputan dengan menekankan pentingnya inovasi dalam melestarikan kebudayaan melalui mode.
Saat ini, Didier terus menerima pesan dukungan dari perajin di seluruh Indonesia, menandakan bahwa ronce melati Syifa Hadju telah menjadi simbol kreativitas lintas generasi.
Dengan popularitas yang terus meningkat, ronce melati ala Bridgerton diprediksi akan menjadi standar baru dalam acara siraman modern, menggabungkan keindahan tradisi dan glamor kontemporer.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan