Media Kampung – The Federal Reserve (The Fed) kembali memberikan sinyal hawkish dalam kebijakan moneter mereka, menandakan bahwa inflasi masih menjadi perhatian utama. Dalam catatan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis pada 7 Oktober 2026, terungkap bahwa mayoritas pejabat The Fed mempertimbangkan kemungkinan untuk melakukan satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun ini. Suku bunga acuan saat ini berada di kisaran 3,75% hingga 4,00%.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Sinyal hawkish ini tentunya berpotensi memengaruhi likuiditas di pasar dan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengingatkan para investor kripto untuk tidak hanya mengandalkan satu indikator ekonomi dalam membuat keputusan investasi. Menurutnya, pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari likuiditas global, kondisi ekonomi, regulasi, hingga dinamika masing-masing aset.

“Investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi,” ujarnya, menekankan pentingnya analisis yang lebih komprehensif menjelang rapat FOMC berikutnya yang dijadwalkan pada 27-28 Oktober 2026.

Menjelang rapat tersebut, perekonomian AS masih dinilai tumbuh solid dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Meskipun demikian, perubahan ekspektasi suku bunga tetap menjadi faktor yang perlu dicermati oleh investor, karena dapat berpengaruh terhadap likuiditas dan minat terhadap aset berisiko.

Oleh karena itu, penting bagi investor untuk tetap waspada dan melakukan riset mendalam mengenai kondisi pasar kripto dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakannya.