Media Kampung – Inklusi keuangan menjadi fokus utama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Indonesia, dimana BRI dan program BRILink Agen Mekaar memperluas layanan bagi masyarakat.
Hany Dwiningsih Ubro, seorang mantri perempuan BRI yang bertugas di Unit Elat, Kepulauan Kei Besar, menjadi contoh nyata upaya tersebut.
Ia memulai karier di BRI pada tahun 2020 sebagai customer service di Unit Masrum, kemudian beralih ke posisi tenaga pemasar setelah melewati enam kali seleksi.
Pada tahun 2025, Hany resmi menjadi Mantri BRI dan langsung turun ke lapangan untuk melayani 115 desa yang tersebar di lima kecamatan Elat.
Jalan di wilayah tersebut masih sebagian besar tidak beraspal, sehingga Hany harus menempuh rute berlumpur, tanjakan curam, dan jalan berbatu.
Cuaca hujan sering menghambat perjalanan, namun warga setempat membantu dengan mendorong motor agar ia dapat melanjutkan tugas.
Beberapa desa hanya dapat diakses lewat speedboat kecil, yang menguji ketangguhan dan kepercayaan Hany pada pengemudi profesional.
“Saya harus siap menghadapi kondisi geografis yang menantang, namun tujuan saya membuka akses keuangan bagi masyarakat tetap menjadi motivasi,” ujar Hany.
Sementara itu, jaringan BRILink Agen Mekaar mencatat pencapaian signifikan hingga Maret 2026.
Jumlah agen mencapai 426 ribu, dengan total transaksi 2,68 juta kali dan volume transaksi Rp3,52 triliun.
Program Mekaar, yang dijalankan oleh PNM, menargetkan pemberdayaan perempuan prasejahtera melalui pembiayaan berbasis kelompok.
Agen Mekaar berperan sebagai perpanjangan layanan perbankan, menyediakan transfer, tarik tunai, dan pembayaran tagihan secara langsung di komunitas.
Para agen tidak hanya memperoleh penghasilan tambahan dari sharing fee, tetapi juga meningkatkan inklusi keuangan di lingkungan mereka.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menekankan bahwa jaringan ini merupakan bagian dari strategi BRI untuk memperluas inklusi keuangan secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, “BRILink Agen Mekaar menjadi lifestyle micro provider yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih luas.”
Sinergi antara BRI, Pegadaian, dan PNM dalam holding Ultra Mikro (UMi) memperkuat ekosistem layanan keuangan di tingkat komunitas.
Program ini juga mendorong pembukaan rekening Simpedes UMi secara masif, serta membantu naik kelas sekitar 1,4 juta debitur PNM pada tahun 2025.
Keberhasilan program tercermin dari tingginya pemanfaatan layanan, yang membantu mengurangi kesenjangan akses keuangan antara kota dan daerah terpencil.
Konteks nasional menunjukkan bahwa inklusi keuangan masih menjadi tantangan, terutama di wilayah kepulauan dan daerah pedalaman.
Data Bank Indonesia mencatat bahwa sekitar 30 persen penduduk belum memiliki rekening bank pada akhir 2025.
Upaya BRI melalui mantri lapangan dan agen Mekaar menjadi contoh konkret mengatasi hambatan geografis dan infrastruktur.
Di samping itu, pemerintah mendukung melalui program Asta Cita yang menekankan ekonomi dari desa dan dari bawah.
Program Mekaar sejalan dengan kebijakan tersebut, menjadikan agen sebagai infrastruktur penting bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa agen Mekaar terus menambah jumlah transaksi harian, sementara mantri BRI di wilayah 3T melaporkan peningkatan jumlah nasabah baru secara signifikan.
Hany melaporkan bahwa pada kuartal terakhir tahun 2026, sebanyak 2.300 nasabah baru berhasil didata di unitnya.
Hal ini menandakan bahwa pendekatan personal dan kehadiran fisik tetap relevan dalam era digitalisasi layanan keuangan.
Secara keseluruhan, sinergi antara tenaga lapangan BRI dan jaringan agen Mekaar memperkuat fondasi inklusi keuangan di seluruh Indonesia.
Keberhasilan ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain yang mengalami kesulitan akses, mempercepat tercapainya tujuan nasional untuk inklusi keuangan universal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan