Media Kampung – Di tengah rimbunnya perbukitan Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Urip Ripana, seorang guru honorer Bahasa Inggris di SDN Giriasih, menjalani hari-hari penuh tantangan. Selain harus melewati medan terjal yang rawan longsor, Urip juga menghadapi ketidakpastian mengenai nasibnya sebagai tenaga honorer yang akan berakhir pada 2027.

Urip, 27 tahun, sudah beberapa waktu mengabdi di sekolah yang terletak di daerah terpencil ini. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sulit yang tidak hanya melelahkan secara fisik tapi juga berbahaya karena rawan longsor, terutama saat musim hujan. Kondisi ini menambah beban dan risiko yang harus ia tanggung demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di sana.

Selain risiko alam, Urip dan rekan-rekan guru honorer lainnya menghadapi ketidakpastian status pekerjaan yang akan berakhir pada tahun 2027. Hal ini menimbulkan kecemasan karena belum ada kepastian mengenai kelanjutan kontrak atau kemungkinan pengangkatan sebagai pegawai tetap. Ketidakjelasan ini memengaruhi motivasi dan perencanaan masa depan para guru yang selama ini mengabdikan diri pada pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.

Ketua Komite Sekolah SDN Giriasih menyatakan bahwa kondisi guru honorer seperti Urip harus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Mereka berharap ada solusi yang bisa memastikan keberlangsungan pengajaran tanpa harus meninggalkan risiko berat yang dihadapi para guru ini setiap hari. Ancaman longsor yang kerap terjadi menuntut adanya perbaikan infrastruktur jalan dan akses yang lebih aman menuju sekolah.

Para pihak terkait juga diharapkan bisa memberikan kejelasan mengenai kebijakan tenaga honorer agar para guru tidak terus berada dalam ketidakpastian. Dengan status yang jelas dan perlindungan yang memadai, guru seperti Urip dapat fokus mengajar dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil tersebut.

Saat ini, Urip tetap berkomitmen menjalankan tugasnya meskipun kondisi sulit dan ancaman bahaya selalu mengintai. Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi konkrit agar perjuangan para guru honorer di SDN Giriasih tidak sia-sia dan masa depan pendidikan di kawasan tersebut semakin cerah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.