Media Kampung – Palembang, Sumatera Selatan – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memperburuk kualitas udara di Kota Palembang pada Senin (20/10/2026) pagi. Polusi udara terpantau berada pada level berbahaya di sejumlah titik, sementara warga mengeluhkan mata perih hingga sesak napas.
Menurut pantauan aplikasi IQAir pada pukul 04.00 WIB, sejumlah lokasi di Palembang mencatat indeks kualitas udara yang sangat tinggi. Universitas Sriwijaya (Unsri) menjadi salah satu titik dengan angka tertinggi, yakni 1.137, disusul kawasan Demang Lebar Daun yang mencapai 900. Sementara itu, kawasan Musi 2 mencatat angka 333, Sukarami berada di angka 288, dan GP Palembang mencapai 290. Beberapa lokasi berada pada tingkat berbahaya, sedangkan Sukarami dan GP Palembang masuk kategori sangat tidak sehat.
Warga diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara karena angkanya dapat berubah sewaktu-waktu. Kondisi ini juga menjadi pengingat agar warga lebih berhati-hati ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Aktivitas Masyarakat di Tengah Kabut Asap
Meski kualitas udara memburuk, sebagian warga masih harus keluar rumah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pantauan, aktivitas masyarakat tetap berlangsung di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang. Terdapat warga yang berolahraga di luar ruangan tanpa menggunakan masker pelindung yang memadai.
Paparan polusi udara akibat asap karhutla berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan. Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, mengurangi aktivitas fisik berat di luar rumah, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang memburuk.












