Media Kampung – Come and See Pictures menggelar pameran Macabre Art Installation yang mengangkat dunia horor dari film Ghost in the Cell karya Joko Anwar. Pameran ini menghadirkan enam instalasi seni grotesk yang sebelumnya hanya muncul dalam film, kini dihadirkan dalam bentuk fisik berukuran nyata.
Acara berlangsung di Nirmana Falatehan mulai 16 hingga 22 Mei 2026 dengan akses gratis setiap hari dari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Enam instalasi yang dipamerkan diberi nama The Fan, Shower Head, The Stove, The Dancer, Flood Light, dan Lady Justice, yang dalam film menjadi bagian dari cerita horor sekaligus kritik sosial terhadap kekerasan serta eksploitasi lingkungan.
Ghost in the Cell bercerita tentang entitas dari hutan Kalimantan yang kehilangan habitat akibat deforestasi tambang nikel. Entitas tersebut kemudian membunuh manusia yang memiliki aura negatif dan mengubah tubuh korban menjadi objek seni dengan tampilan grotesk.
Joko Anwar menyampaikan bahwa pameran ini dibuat agar pengunjung dapat merasakan isu yang sebelumnya hanya disajikan di layar bioskop secara lebih nyata. “Film membuat penonton melihat. Ruang pamer membuat pengunjung berhadapan langsung dengan isu di dalam film,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Pengunjung diajak masuk ke dalam atmosfer Ghost in the Cell melalui perpaduan suara, pencahayaan, tekstur, dan skala instalasi yang memberikan pengalaman lebih dekat dan personal. Selain sebagai pameran seni, acara ini juga membuka ruang diskusi tentang tubuh, kekerasan, konsumsi, dan kekuasaan dalam sistem sosial yang keras.
Macabre Art Installation merupakan salah satu inisiatif Come and See Pictures dalam memperkenalkan seni instalasi dan seni kontemporer, sekaligus menunjukkan bahwa perfilman merupakan kolaborasi berbagai bidang seni kreatif. Instalasi ini lahir dari interpretasi visual para concept artist Indonesia dan diwujudkan dengan proses sculpting, prostetik, tata artistik, tata cahaya, serta desain suara khusus.
Beberapa seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy Ao. Tim kreatif lainnya terdiri dari Dennis Sutanto sebagai Art Director, Novie Ariyanti untuk Make-up effects, Ical Tanjung mengurusi pencahayaan, Monika Paska sebagai Costume Designer, M. Anwar pada Prosthetic Artist, Aghi Narottama untuk Sound and Music Design, serta Tony Merle dalam Music Collaboration.
Pameran ini menggabungkan unsur horor, seni kontemporer, satire sosial, dan pengalaman imersif, sehingga menjadi salah satu eksplorasi lintas medium yang ambisius dalam kampanye film Indonesia. Eksposisi ini diharapkan menjadi ruang bertemu bagi penonton film, pecinta seni, komunitas kreatif, dan generasi muda untuk merasakan dunia sinematik yang hidup melampaui layar bioskop.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan