Media Kampung – 11 April 2026 | Sosiolog Universitas Gadjah Mada menilai budaya kerja modern menjadi pemicu utama kelelahan ekstra pada tenaga kerja di Indonesia.
Mereka menyebut burnout sebagai gejala sosial yang muncul akibat pola sistem kerja yang menuntut produktivitas terus-menerus tanpa jeda.
Digitalisasi dan adopsi teknologi informasi memperluas batas waktu kerja, sehingga pekerja sering kali harus tetap terhubung di luar jam kantor.
Data internal perusahaan di kota besar menunjukkan rata-rata jam kerja meningkat sekitar 10% sejak 2019, menandakan tekanan waktu yang semakin berat.
“Budaya kerja yang menekankan produktivitas tanpa henti menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan,” kata Prof. Dr. Riri Fitri Sari, Fakultas Sosiologi UGM.
Gejala burnout meliputi kelelahan fisik, keletihan emosional, serta menurunnya motivasi dan kepuasan kerja.
Akibatnya, perusahaan mengalami penurunan produktivitas, peningkatan absensi, dan tingkat pergantian karyawan yang lebih tinggi.
Sosiolog menegaskan bahwa burnout bukan sekadar masalah individu, melainkan konsekuensi struktural dari pola kerja yang tidak berkelanjutan.
Studi WHO 2022 mengklasifikasikan burnout sebagai masalah pekerjaan yang memerlukan intervensi kebijakan.
Kebutuhan untuk selalu merespons email dan pesan kerja melalui platform digital memperpanjang jam kerja efektif.
Pekerja di sektor teknologi melaporkan praktik lembur tanpa kompensasi yang memicu kelelahan kronis.
Para pakar menyarankan perusahaan mengatur batas kerja harian dan menerapkan kebijakan work‑life balance yang jelas.
UGM mengusulkan penyisipan materi manajemen stres dalam pelatihan karyawan untuk meningkatkan ketahanan mental.
Pemerintah diharapkan memperkuat regulasi jam kerja, hak cuti, dan perlindungan tenaga kerja terhadap beban berlebih.
Negara-negara Skandinavia yang menerapkan jam kerja lebih pendek menunjukkan tingkat burnout yang jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia.
Sosiolog berharap perubahan budaya kerja dapat mengedepankan kesejahteraan, bukan sekadar kuantitas output.
Jika tren kelelahan terus berlanjut, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan akademisi menjadi kunci mengurangi dampak negatifnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.














Tinggalkan Balasan