Media Kampung – 15 April 2026 | Lebaran Betawi 2026 digelar dengan semarak karnaval, pertunjukan lenong, dan beragam permainan tradisional, menandai upaya pelestarian budaya Betawi di tengah modernisasi kota Jakarta.

Acara utama berlangsung pada 12–13 Mei 2026 di kawasan Kota Tua, Jakarta, yang dipadati ribuan penonton lokal maupun wisatawan domestik.

Karnaval menampilkan armada hias berwarna cerah, penari topeng Betawi, serta orkes musik gambang kromong yang mengiringi alur jalan yang ditata khusus untuk perayaan.

Pertunjukan lenong, teater rakyat khas Betawi, dipentaskan di panggung terbuka dengan naskah yang memadukan cerita klasik Lebaran dan isu sosial terkini.

Permainan tradisional seperti galasin, engklek, dan lomba bakiak kembali dihidupkan, menarik partisipasi anak muda yang belajar langsung dari senior komunitas.

Abang None, tokoh seni dan budaya Betawi yang dikenal lewat program edukasi, menjadi juru bicara utama dalam menggalang dukungan generasi muda.

\”Kita harus menjaga warisan budaya sebelum hilang, dan anak muda adalah kunci utama,\” ujar Abang None dalam sambutan pembukaan.

Ia mengajak kolaborasi antara seniman, sekolah, dan organisasi pemuda untuk mengadakan workshop, pelatihan musik gambang, serta kelas pembuatan topeng tradisional.

Selama tiga hari festival, tercatat lebih dari 2.500 peserta muda terlibat aktif dalam lomba dan lokakarya, meningkatkan rasa kebanggaan terhadap identitas Betawi.

Dukungan resmi datang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta, yang menyediakan dana sebesar Rp 1,2 miliar serta fasilitas logistik untuk kelancaran acara.

Lebaran Betawi pertama kali dirayakan pada era kolonial Belanda sebagai cara komunitas lokal menyesuaikan tradisi Idul Fitri dengan kearifan lokal.

Seiring waktu, perayaan ini menjadi simbol persatuan antar generasi, sekaligus media edukasi bagi publik luas tentang nilai gotong‑royong, toleransi, dan keragaman budaya.

Namun, tantangan tetap muncul, termasuk tekanan urbanisasi yang menggerus ruang publik tradisional dan menurunnya minat generasi digital terhadap kesenian lama.

Sebagai respons, panitia berkomitmen melanjutkan program pendampingan pasca‑festival, memastikan bahwa semangat Lebaran Betawi 2026 tetap hidup di tahun-tahun berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.