Media Kampung – Saham PT Hillcon Tbk (HILL) kini berada di level Rp16 per saham, jauh dari harga IPO. Emiten jasa kontraktor pertambangan batu bara dan nikel ini tengah menghadapi tekanan keuangan yang berat. Di satu sisi, ada peluang besar jika perseroan berhasil keluar dari masalah. Di sisi lain, risiko pailit mengintai jika kewajiban utang tidak terbayar.
Kinerja Keuangan HILL Memburuk
Sepanjang 2025, pendapatan HILL turun 12 persen menjadi Rp3,46 triliun. Kerugian justru membengkak hingga Rp1,29 triliun, menggerus ekuitas menjadi hanya Rp419 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas melonjak ke 6,17 kali. Total utang pinjaman berbunga mencapai Rp2,62 triliun, dengan utang jangka pendek sekitar Rp800 miliar dan utang sewa kurang dari satu tahun Rp509 miliar. Utang usaha kepada vendor mencapai Rp1,38 triliun.
Di sisi aset, HILL memiliki piutang jumbo sekitar Rp1,1 triliun. Namun, mayoritas piutang senilai Rp718 miliar sudah berusia lebih dari 90 hari. Perseroan telah mencadangkan piutang tak tertagih Rp848 miliar. Kondisi ini membuat arus kas terhambat.
Drama PKPU Menanti
HILL menghadapi beberapa gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan kreditur ke anak usahanya, PT Hillconjaya Sakti. Sejumlah PKPU dari PT Tri Nusantara Petromine, PT Astrinusa Jaya Dharma, dan PT Kobexindo Konstruksi Indonesia telah ditolak atau dicabut. Namun, PKPU dari Sany Perkasa masih berjalan dengan periode 44 hari sejak putusan 13 April 2026. HILL mengklaim operasional tetap normal sejak 22 April 2026.
Tekanan dari Regulasi dan Aksi Pengendali
Pemangkasan RKAB batu bara dan nikel berdampak pada potensi pendapatan HILL sebagai kontraktor. Kinerja kuartal I-2026 diperkirakan masih tertekan. Namun, ada harapan dari rencana ESDM membuka revisi RKAB pada semester II-2026, yang bisa meningkatkan kuota produksi.
Aksi pengendali HILL, PT Hillcon Equity Management, juga menjadi perhatian. Kepemilikannya turun dari 70 persen pada Mei 2024 menjadi 37 persen tanpa alasan detail selain “investasi”. Hal ini memicu pertanyaan tentang keyakinan pengendali terhadap prospek perusahaan.
Peluang Bangkit vs Risiko Pailit
Jika HILL mampu membayar cicilan utang sekitar Rp300 miliar per tahun dan mendapatkan investor strategis yang bersedia menanggung utang, saham berpotensi kembali ke Rp50–Rp100. Kelebihan HILL adalah kepemilikan alat berat yang siap pakai. Namun, jika tidak ada investor dan perusahaan pailit, risiko terbesar adalah delisting paksa tanpa buyback bagi investor ritel.
Kesimpulannya, saham HILL di Rp16 menawarkan potensi multibagger jika restrukturisasi berhasil, tetapi juga membawa risiko kehilangan seluruh modal jika pailit. Investor perlu mencermati perkembangan PKPU dan kemampuan HILL melunasi utang jangka pendek.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan