Media Kampung – Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen. Angka ini menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik, yang diproyeksikan tumbuh 4,5 persen. Proyeksi tersebut tercantum dalam Laporan Pembaruan Ekonomi (Economic Update) kawasan EAP edisi Oktober 2026.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia naik 0,5 poin persentase dibandingkan perkiraan Bank Dunia dalam laporan edisi April 2026 yang sebesar 4,7 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan EAP pada 2026 diproyeksikan sebesar 4,5 persen, naik 0,3 poin persentase dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,2 persen.
Bank Dunia menilai ketahanan ekonomi kawasan tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global. Namun, pertumbuhan tersebut belum merata di berbagai negara maupun sektor. Meluasnya adopsi kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi perekonomian kawasan.
Laporan tersebut mengkaji prospek ekonomi jangka pendek EAP sekaligus dampak AI terhadap pasar tenaga kerja dan perekonomian kawasan. Sejumlah negara EAP tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada 2026, salah satunya karena produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang menopang lonjakan aktivitas terkait AI secara global.
Bank Dunia juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan Vietnam pada 2026 sebesar 1,1 poin persentase menjadi 7,4 persen, proyeksi Malaysia naik 0,7 poin persentase menjadi 5,1 persen, dan Thailand naik 0,7 poin persentase menjadi 2 persen.
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo, menyatakan bahwa integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI.
“Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang,” kata Jaramillo.
Namun, manfaat dari perkembangan AI tersebut belum dirasakan secara merata. Laporan Bank Dunia mencatat bahwa beberapa negara memang mendapatkan keuntungan dari penyediaan barang-barang yang menopang lonjakan investasi AI global, tetapi adopsi teknologinya masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju.
Adopsi AI oleh individu dan perusahaan terus meningkat, tetapi masih menghadapi kendala seperti biaya yang tinggi, keterbatasan keahlian, serta persoalan keamanan dan privasi. Bank Dunia menilai sebagian besar negara dapat memperoleh manfaat terbesar dalam jangka pendek melalui pendekatan “AI Kecil”.













