Media Kampung – Perusahaan migas Italia, Eni SpA, dan Repsol SA dari Spanyol, sedang mencari investor eksternal untuk menggarap proyek ladang gas alam raksasa Perla yang terletak di lepas pantai Venezuela. Proyek ini memerlukan tambahan modal agar dapat berkembang lebih lanjut.
Kedua perusahaan tersebut masing-masing memiliki 50 persen saham dalam proyek tersebut. Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa dana hasil transaksi yang dilakukan untuk menjual sebagian kepemilikan di ladang gas Perla akan digunakan untuk membantu pengembangan proyek tersebut. Namun, baik Eni maupun Repsol menolak memberikan komentar mengenai rencana tersebut.
Perla merupakan salah satu ladang gas terbesar di Venezuela, yang dikenal memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar, namun hingga kini belum mengekspor gas alamnya. Bulan lalu, Venezuela dan Amerika Serikat (AS) mengumumkan kerja sama dengan beberapa perusahaan energi besar, termasuk Chevron Corp dan GE Vernova Inc, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak mentah Venezuela.
Eni dan Repsol juga telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Venezuela untuk mulai mengekspor gas dari negara tersebut pada akhir tahun 2031. Kesepakatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali rencana yang sudah lama terhenti dalam meningkatkan produksi dari ladang gas Perla, dengan target produksi gas yang akan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Gas yang dihasilkan nantinya akan diekspor dalam bentuk liquefied natural gas (LNG) melalui terminal terapung. Sebelumnya, pada bulan Februari, AS telah melonggarkan sanksi di sektor energi Venezuela dengan mengeluarkan dua lisensi umum yang mengizinkan perusahaan energi global untuk mengoperasikan proyek minyak dan gas di negara itu, serta memungkinkan perusahaan lain untuk menegosiasikan kontrak guna membawa masuk investasi baru.
Langkah ini merupakan yang paling signifikan sejak pasukan AS menangkap dan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kantor Pengawasan Aset Asing Kementerian Keuangan AS (OFAC) mengeluarkan lisensi umum yang memperbolehkan Chevron, BP, Eni, Shell, dan Repsol untuk mengoperasikan proyek minyak dan gas di Venezuela. Melalui lisensi tersebut, perusahaan besar harus membayar royalti dan pajak kepada pemerintah Venezuela melalui Dana Deposito Pemerintah Asing yang dikelola oleh AS.














