Media Kampung – 16 April 2026 | Pengrajin tahu di Jawa Timur menyesuaikan strategi produksi akibat kenaikan harga kedelai yang terus melonjak.
Harga kedelai nasional pada akhir Maret 2024 mencapai Rp15.800 per kilogram, meningkat sekitar 12 persen dibandingkan bulan Februari.
Kenaikan tersebut memaksa produsen tahu, terutama di Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo, untuk meninjau kembali biaya bahan baku.
Sebagian besar pengrajin memotong ukuran blok tahu dari 250 gram menjadi 200 gram untuk mengurangi konsumsi kedelai per unit.
Perubahan ukuran ini memungkinkan mereka menurunkan harga jual tanpa mengorbankan margin keuntungan secara signifikan.
‘Kami terpaksa mengecilkan ukuran tahu agar tetap terjangkau bagi konsumen yang daya beli menurun,’ ujar Budi Santoso, pemilik usaha tahu di Banyuwangi.
Selain mengurangi ukuran, beberapa pengrajin menambah bahan pengganti seperti tepung kanji untuk mengurangi proporsi kedelai.
Penambahan kanji diperkirakan menurunkan biaya produksi sebesar 8 persen per kilogram produk.
Namun, penggunaan kanji harus diimbangi dengan kontrol kualitas agar tekstur dan rasa tetap sesuai standar konsumen.
Pengrajin juga meningkatkan variasi produk, seperti tahu isi sayuran, untuk menarik segmen pasar yang bersedia membayar lebih.
Data Asosiasi Pengusaha Tahu Indonesia mencatat bahwa penjualan varian premium naik 15 persen sejak awal tahun.
Strategi diversifikasi ini membantu mengkompensasi penurunan volume penjualan tahu konvensional akibat harga kedelai tinggi.
Beberapa produsen beralih ke pemasok kedelai lokal di Jawa Barat yang menawarkan harga lebih stabil dibandingkan impor.
Pemasok lokal tersebut mengklaim dapat menyediakan kedelai dengan harga 5 hingga 7 persen lebih murah daripada pasar internasional.
Pengrajin yang beralih ke kedelai lokal melaporkan penurunan biaya bahan baku sekitar 6 persen dalam tiga bulan terakhir.
Pemerintah daerah Banyuwangi juga memberikan subsidi pupuk kedelai kepada petani lokal untuk menstabilkan pasokan.
Program subsidi ini diharapkan menurunkan harga kedelai regional sebesar 3 hingga 4 persen dalam jangka pendek.
Meski ada dukungan pemerintah, para pengrajin tetap waspada terhadap fluktuasi pasar global yang dipengaruhi oleh cuaca ekstrem di negara produsen utama.
Analisis pasar menunjukkan bahwa jika harga kedelai dunia naik lebih dari 10 persen, produsen tahu kecil berisiko menutup usaha.
Oleh karena itu, kolaborasi antara petani, pemasok, dan pengrajin menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan produksi tahu nasional.
Hingga akhir April 2024, sebagian besar pengrajin di Jawa Timur melaporkan stabilisasi penjualan setelah menerapkan strategi pengurangan ukuran dan diversifikasi produk.
Kondisi ini memberi harapan bahwa industri tahu dapat tetap berkontribusi pada ketahanan pangan meski menghadapi tekanan harga kedelai yang tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan