Media Kampung – 30 Maret 2026 | PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) melaporkan pendapatan sebesar USD 1,48 miliar atau sekitar Rp 25,1 triliun selama tahun 2025, menurun 16% secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi utama oleh penurunan volume penambangan, sementara harga jual rata‑rata (ASP) tetap stabil.
EBITDA perusahaan menurun menjadi USD 175 juta dengan margin 14%, disebabkan oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar. Tanpa memperhitungkan biaya pesangon, EBITDA tercatat USD 207 juta dengan margin 17%.
Rugi bersih tercatat USD 128 juta, dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang dari kontrak Australia yang berakhir, dan penurunan nilai aset di operasional Australia serta Amerika Serikat. Keuntungan nilai wajar sebesar USD 41 juta dari investasi di 29Metals serta selisih kurs positif USD 36 juta membantu mengurangi kerugian.
Arus kas bebas berbalik menjadi positif dengan USD 8 juta pada akhir tahun, dibandingkan defisit USD 60 juta pada 2024. Kuartal IV 2025 mencatat arus kas bebas tertinggi sebesar USD 57 juta, menandakan perbaikan likuiditas yang signifikan.
Selama 2025 hingga awal 2026, DOID mengamankan tiga kontrak utama, termasuk perpanjangan kontrak BUMA Australia senilai sekitar AUD 740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027.
Setelah penutupan buku, BUMA menandatangani kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup pengangkutan overburden sebesar 239 juta m³ dan produksi batu bara 44 juta ton.
Grup terus memperluas diversifikasi dengan kepemilikan 22,6% di 29Metals, produsen tembaga dan logam lain di Australia, 71% saham Atlantic Carbon Group di Pennsylvania, serta 44,15% di Asiamet Resources yang mengembangkan BKM Copper Project di Indonesia.
Direktur Iwan Fuad Salim menyatakan, “Kami memasuki 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca yang lebih tangguh, dan basis kontrak yang terjamin.” Ia menekankan prioritas pada keunggulan operasional, disiplin biaya, dan pertumbuhan organik serta anorganik.
Volume pengangkatan overburden turun 19% menjadi 439 juta m³, sementara produksi batu bara menurun 6% menjadi 84 juta ton, mencerminkan gangguan cuaca dan ramp‑down pada beberapa situs. Namun, perbaikan struktural meningkatkan produktivitas per kuartal, dengan overburden removal naik dari 76 MBCM pada 1Q25 menjadi 79 MBCM pada 4Q25.
Jam kerja alat meningkat 6%, downtime berkurang 31%, dan biaya unit turun dari USD 2,22/BCM menjadi USD 1,83/BCM pada kuartal IV, menunjukkan efektivitas upaya pengendalian biaya. Dengan belanja modal yang tetap disiplin pada USD 179 juta, perusahaan menyiapkan landasan yang lebih stabil untuk tahun mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






