Media Kampung – Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.670 per dolar AS memicu permintaan dari Komisi XI DPR RI agar Bank Indonesia memberikan penjelasan yang lebih mendalam dan transparan kepada masyarakat. Permintaan ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi XI, Hanif Dhakiri, yang menilai pernyataan BI mengenai stabilitas rupiah masih menimbulkan kebingungan di kalangan publik terkait faktor penyebab dan kebijakan yang diambil.

Hanif menyoroti bahwa penjelasan Bank Indonesia sampai saat ini belum cukup jelas, terutama mengenai apakah stabilitas yang dimaksud berkaitan dengan volatilitas nilai tukar yang masih terkendali meski ada penyesuaian pada level kurs. Politikus PKB tersebut menegaskan pentingnya komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami agar masyarakat lebih mengerti kondisi pasar dan langkah yang diambil otoritas moneter.

Lebih lanjut, Hanif meminta BI untuk menguraikan secara rinci strategi yang sedang diterapkan dalam menstabilkan rupiah, termasuk efektivitas instrumen yang digunakan untuk meredam tekanan nilai tukar. Ia juga mendorong BI membandingkan volatilitas rupiah dengan mata uang negara lain yang memiliki tingkat ekonomi sejenis agar publik mendapat gambaran konteks yang lebih luas mengenai posisi rupiah saat ini.

Selain itu, Hanif menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional bukan hanya tanggung jawab Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal harus dijalankan secara solid untuk menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi. Koordinasi ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar serta memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah dan BI menyampaikan bahwa pelemahan rupiah lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan oleh penurunan fundamental ekonomi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan terhadap rupiah tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan karena fondasi ekonomi masih kuat dan pertumbuhan ekonomi tetap diprioritaskan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah sebagian besar disebabkan oleh faktor musiman seperti kebutuhan valuta asing untuk musim haji, pembayaran dividen, dan kewajiban utang luar negeri. Faktor-faktor tersebut menciptakan permintaan dolar yang sementara sehingga memengaruhi nilai tukar rupiah saat ini.

Dengan berbagai tekanan yang ada, DPR melalui Komisi XI berharap Bank Indonesia dapat meningkatkan keterbukaan informasi dan komunikasi dengan masyarakat agar langkah stabilisasi nilai tukar dapat dipahami dengan jelas dan menumbuhkan kepercayaan publik. Kondisi ini menjadi penting untuk menjaga kestabilan ekonomi di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.