Media KampungDemo Kaltim yang digelar di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada Selasa 5 Mei 2026 berubah menjadi ricuh, menewaskan lima anggota polisi dan membuat satu polwan pingsan.

Demonstrasi dipimpin oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Timur untuk menyampaikan aspirasi terkait transparansi kebijakan dan pengelolaan aset daerah.

“Ada polwan yang terkena lemparan hingga sempat pingsan. Selain itu, beberapa anggota kami juga mengalami luka akibat lemparan dan tindakan dari massa,” kata Zarma kepada wartawan.

Selain polwan tersebut, minimal lima personel kepolisian mengalami luka, sebagian dengan robekan pada wajah dan tubuh akibat benda keras yang dilempar.

Zarma menambahkan tiga anggota polisi sempat tertarik ke dalam kerumunan dan menerima kekerasan fisik, namun semua yang terluka sudah mendapatkan penanganan medis.

“Alhamdulillah, tidak ada yang luka berat. Semua sudah ditangani oleh tim medis di Polres,” tegasnya.

Polresta Samarinda mengerahkan sekitar 250 personel Polri, didukung Satpol PP serta unsur lain, sehingga total sekitar 400 personel gabungan berada di lokasi.

Awal aksi, aparat berupaya menjaga kondusivitas dengan pendekatan persuasif, namun situasi berubah ketika terjadi lemparan-lemparan yang tidak terkendali.

“Kami sudah berupaya maksimal menjaga kondusivitas. Namun, ada lemparan-lemparan yang memicu situasi menjadi tidak terkendali,” jelas Zarma.

Ketua Umum PKC PMII Kalimantan Timur, Muhammad Said Abdillah, mengakui kericuhan terjadi dan menyesali insiden tersebut.

“Ada empat kader kami yang luka, satu sampai harus dijahit di bagian kepala,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa aksi tetap bertujuan menyampaikan tuntutan kepada Gubernur terkait transparansi kebijakan dan pengelolaan aset daerah.

Setelah insiden, keamanan di sekitar kantor gubernur perlahan kembali kondusif, namun aparat tetap waspada untuk mengantisipasi demonstrasi susulan.

Para saksi mata menyebut bahwa kerumunan demonstran awalnya bersifat damai, namun tiba-tiba sebagian massa melemparkan batu dan benda keras ke arah aparat.

Polisi yang terluka langsung dibawa ke fasilitas medis Polres Samarinda untuk perawatan lanjutan.

Tim medis menyatakan bahwa luka yang dialami mayoritas bersifat ringan hingga sedang, tanpa ada korban jiwa.

PMII menegaskan bahwa beberapa kadernya juga mengalami luka, termasuk satu yang harus dijahit pada bagian kepala.

Organisasi menambahkan bahwa mereka tetap berkomitmen menyuarakan aspirasi melalui jalur damai, meski insiden ini menambah ketegangan.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan tegas terhadap pelaku lempar batu akan tetap diambil untuk menjaga keamanan publik.

Sejumlah saksi melaporkan adanya suara teriakan dan benturan antara massa dengan aparat sekitar pukul 09.30 WIB.

Polresta Samarinda mencatat bahwa selama aksi, tidak ada laporan kerusakan properti signifikan di area kantor gubernur.

Pengamat politik menilai insiden ini mencerminkan ketegangan antara mahasiswa dan aparat keamanan dalam menyuarakan tuntutan kebijakan.

Namun, mereka juga menekankan pentingnya dialog terbuka antara pemerintah daerah dan organisasi mahasiswa untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Kondisi polwan yang pingsan dipantau oleh tim medis, dan laporan awal menyebutkan tidak ada luka internal yang serius.

Polri berjanji akan melakukan evaluasi prosedur pengamanan demonstrasi guna mencegah kejadian serupa di masa depan.

Di luar kejadian, PMII menyatakan bahwa mereka akan tetap mengadakan aksi-aksi damai untuk menuntut transparansi kebijakan daerah.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut pada hari yang sama.

Media lokal melaporkan bahwa situasi keamanan tetap terjaga, dan tidak ada indikasi tindakan lanjutan dari massa setelah aparat menurunkan tekanan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.