Media KampungGrab mengumumkan bahwa perusahaan sedang meninjau rencana pemerintah yang menetapkan batas potongan aplikasi 8 persen bagi driver ojek online, sebagai respons atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan tarif layanan.

Pengumuman tersebut muncul setelah serangkaian protes driver ojol di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yang menilai potongan tarif saat ini terlalu tinggi dan mengurangi pendapatan mereka secara signifikan.

Menurut data internal Grab, rata-rata potongan aplikasi yang dibebankan kepada driver berkisar antara 15 hingga 20 persen, tergantung pada jenis layanan dan zona operasional. Pemerintah mengusulkan standar maksimum 8 persen, yang akan menurunkan beban biaya bagi driver secara signifikan.

Perwakilan Grab, Rudi Hartono, menjelaskan bahwa perusahaan akan melakukan analisis mendalam terkait dampak finansial dan operasional sebelum mengambil keputusan final. “Kami berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan driver, konsumen, dan keberlanjutan bisnis,” ujarnya dalam konferensi pers virtual pada 28 April 2024.

Sementara itu, serikat driver ojek online mengeluarkan pernyataan yang menuntut implementasi cepat atas batas potongan 8 persen, mengingat banyak driver yang mengalami penurunan pendapatan hingga 30 persen selama kuartal terakhir.

Data dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa sektor ojek online menyumbang lebih dari 20 juta perjalanan per bulan di Indonesia, dengan kontribusi signifikan terhadap mobilitas urban. Oleh karena itu, kebijakan tarif yang lebih bersahabat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan driver sekaligus menstabilkan harga layanan bagi penumpang.

GoTo, pesaing utama Grab di pasar ride‑hailing, juga menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan potongan aplikasinya sesuai arahan pemerintah. “Kami siap melaksanakan kebijakan potongan 8 persen demi kepentingan driver dan konsumen,” kata CEO GoTo, Andre Soelistyo, dalam pertemuan dengan regulator pada 30 April 2024.

Para ahli ekonomi menilai bahwa penurunan potongan aplikasi dapat meningkatkan daya beli driver, namun juga menimbulkan tantangan bagi perusahaan dalam menutupi biaya operasional, termasuk pengembangan teknologi, asuransi, dan dukungan layanan pelanggan.

Untuk mengatasi potensi defisit pendapatan, Grab mempertimbangkan diversifikasi sumber pendapatan, seperti peningkatan layanan iklan dalam aplikasi dan kemitraan dengan e‑commerce. Namun, perusahaan menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada kepuasan driver.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa Grab telah membentuk tim khusus yang terdiri dari analis keuangan, regulator, dan perwakilan driver untuk menyusun skenario implementasi potongan 8 persen. Tim tersebut dijadwalkan akan menyampaikan rekomendasi akhir kepada dewan direksi pada awal Mei 2024.

Jika rekomendasi disetujui, perubahan tarif diperkirakan akan mulai berlaku pada kuartal ketiga 2024, memberikan waktu bagi driver dan platform untuk menyesuaikan operasional mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.