Media Kampung – Video gempa Jepang April 2026 yang beredar di media sosial ternyata tidak merekam peristiwa gempa sebenarnya.

Rekaman itu diunggah sebelum gempa berkekuatan M 7,5 terjadi di lepas pantai timur Honshu pada 20 April 2026 pukul 16.53 waktu setempat.

Tim Cek Fakta Kompas menelusuri asal video dan menemukan bahwa klip tersebut pertama kali muncul pada platform video internasional pada akhir 2025.

Klien video menunjukkan interior sebuah toko di kota Mandalay, Myanmar, yang mengalami gempa M 7,9 pada 28 Maret 2025.

Analisis visual mengungkapkan bahwa bangunan dalam rekaman tidak bergoyang secara seragam, menandakan manipulasi atau pemotongan gambar.

Selain itu, kamera CCTV tetap stabil meski seharusnya bergetar bersamaan dengan getaran tanah.

Beberapa kendaraan di jalan terlihat melayang atau menghilang, sebuah indikasi penyuntingan digital.

Tim verifikasi mencatat bahwa video tersebut telah diedit dengan teknologi AI untuk menambahkan efek gempa pada latar belakang Jepang.

“Video ini adalah contoh klasik deepfake yang memanfaatkan footage asli dari Myanmar dan menyesuaikannya dengan peristiwa di Jepang,” kata juru bicara Tim Cek Fakta Kompas.

Pengguna media sosial menyertakan narasi yang menyatakan video menunjukkan gempa M 7,5 di Jepang, padahal konteks aslinya berbeda.

Beberapa akun menyebarkan video dengan judul sensasional, menambah kebingungan publik yang tengah menunggu informasi resmi.

Direktur Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi tidak ada laporan gempa kuat di wilayah tersebut pada tanggal unggahan video.

BMKG hanya mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa aktual pada 20 April 2026, tanpa adanya rekaman CCTV yang sesuai.

Pengamat media menilai penyebaran video palsu ini berpotensi menimbulkan kepanikan dan menurunkan kepercayaan terhadap sumber informasi terpercaya.

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa akun-akun yang menyebarkan video memiliki riwayat memposting konten hoaks terkait bencana alam.

Platform media sosial telah menandai beberapa postingan sebagai melanggar kebijakan misinformasi, namun penyebaran tetap berlangsung.

Menurut data internal, video tersebut telah dilihat lebih dari 2,5 juta kali dalam 48 jam pertama sejak diunggah.

Respons publik beragam, ada yang menilai video sebagai bukti kesiapan mitigasi bencana, sementara yang lain menilai sebagai propaganda.

Tim Cek Fakta menekankan pentingnya verifikasi sumber sebelum membagikan konten visual yang sensitif.

“Kita harus menunggu konfirmasi resmi dari otoritas terkait sebelum mempercayai dan menyebarkan materi yang belum terverifikasi,” tegas juru bicara tersebut.

Sejumlah media nasional mengutip hasil verifikasi dan menambahkan klarifikasi dalam laporan mereka.

Dalam siaran persnya, Kompas.com menegaskan bahwa video tidak merekam gempa di Jepang, melainkan footage lama dari Myanmar tahun 2025.

Pengguna yang telah menyebarkan video diminta untuk menghapus atau menandai konten sebagai palsu sesuai pedoman platform.

Otoritas keamanan siber mengingatkan bahwa penyebaran konten hoaks dapat melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kasus ini menambah daftar panjang hoaks terkait bencana alam yang muncul setiap tahun di Indonesia.

Langkah selanjutnya meliputi edukasi digital bagi masyarakat agar dapat membedakan antara konten asli dan yang telah dimanipulasi.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar platform telah menurunkan jangkauan video tersebut, namun jejak digitalnya tetap ada.

Pengguna diimbau untuk selalu memeriksa fakta melalui situs resmi atau lembaga verifikasi terpercaya sebelum mempercayai informasi visual.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.