Media Kampung – Berita tentang wafat KH A Wahid Hasyim menyebar luas melalui sejumlah media massa pada Senin, 20 April 1953, menandai berakhirnya era kepemimpinan ulama terkemuka tersebut.
Berbagai surat kabar nasional dan lokal sekaligus menyiarkan laporan serupa, menegaskan bahwa kematiannya terjadi pada sore hari di Yogyakarta.
Dokter yang merawatnya menyatakan bahwa kondisi kesehatan beliau menurun drastis pada malam sebelum kematian, memaksa keluarga memutuskan tindakan akhir.
Keluarga inti, termasuk putra-putranya yang kelak menjadi tokoh politik, berada di samping jenazah saat pemakaman dilaksanakan di kompleks Masjid Al-Hikam.
Ribuan warga berkumpul di sekitar masjid, menunjukkan rasa hormat dan duka mendalam terhadap sosok yang dikenal luas sebagai pendidik dan pejuang kemerdekaan.
Sejumlah tokoh agama memberikan euloginya, menyebut KH A Wahid Hasyim sebagai “cahaya ilmu yang tak pernah padam” dalam sejarah keislaman Indonesia.
“Saya merasa kehilangan sosok pemimpin agama yang bijaksana,” ujar seorang tokoh senior yang menolak disebutkan namanya, menambah keharuan suasana.
Media cetak seperti “Pikiran Rakyat” dan “Merdeka” menuliskan rangkaian prestasi beliau, mulai dari pendirian pesantren hingga peran aktif dalam pergerakan kemerdekaan.
Beberapa media daerah, termasuk “Berita Surabaya” dan “Jawa Pos”, menyoroti dampak wafatnya terhadap komunitas setempat yang kehilangan pembimbing spiritual.
Dalam edisi khusus, “Tempo” menampilkan foto-foto lama KH A Wahid Hasyim bersama para pemimpin bangsa, menegaskan kontribusinya dalam dialog antaragama.
Laporan radio Nasional Indonesia (RNI) menyiarkan pengumuman resmi selama tiga jam, memberi kesempatan kepada pendengar di seluruh nusantara untuk berduka bersama.
Di sisi lain, beberapa surat kabar mengkritisi kurangnya persiapan pemerintah dalam mengelola warisan intelektual beliau, menuntut pembentukan lembaga khusus.
Pengumuman resmi dari Kementerian Agama menegaskan akan ada upaya pelestarian karya tulis KH A Wahid Hasyim melalui digitalisasi arsip.
Sejumlah universitas, termasuk Universitas Gadjah Mada, berjanji menyelenggarakan kuliah umum tahunan untuk mengenang pemikiran beliau.
Waktu pemakaman berlangsung sederhana, mengikuti tradisi Islam dengan pembacaan Al‑Fatiha secara kolektif oleh para ulama yang hadir.
Setelah prosesi selesai, jenazah dimakamkan di area yang sama dengan ayahnya, KH Hasyim Asy’ari, menegaskan kesinambungan garis keturunan keagamaan.
Kondisi cuaca pada hari itu cerah, memberikan suasana tenang bagi para peziarah yang menunaikan sholat jenazah.
Hingga kini, keluarga tetap menjaga warisan beliau dengan mengelola yayasan pendidikan yang didirikan atas nama KH A Wahid Hasyim.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan