Media Kampung – 16 April 2026 | Jembatan Darungan Putus, Siswa SDN 2 Jubung Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Bedadung Pakai Rakit menyoroti krisis transportasi di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember, setelah jembatan gantung ambruk pada 12 Februari 2024. Kerusakan tersebut memaksa orang tua siswa mengandalkan rakit bambu untuk menyeberangi sungai demi kelangsungan pendidikan anak.

Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Darungan dengan arah Ajung runtuh sekitar pukul 21.20 WIB akibat debit air sungai yang melonjak setelah hujan deras. Struktur kayu dan tali tidak mampu menahan tekanan air tinggi, sehingga menimbulkan keretakan fatal.

Kejadian itu memutuskan jalur utama yang biasanya mempersingkat waktu tempuh warga dari utara ke selatan. Akibatnya, akses ke pasar, fasilitas kesehatan, dan sekolah menjadi sangat terbatas.

Kapolsek Sukorambi, AKP Sudarsono, menjelaskan bahwa “Warga terpaksa memutar jauh ke arah timur melalui Mangli, Kecamatan Kaliwates, atau ke arah barat melalui jembatan gantung di Desa Kaliwining”. Ia menambahkan bahwa jarak tempuh alternatif dapat mencapai 20‑30 kilometer.

Untuk mengurangi beban perjalanan, para wali murid secara kolektif membangun rakit sederhana dari bambu yang dapat menampung lima siswa SDN 2 Jubung dan satu anak TK. Rakit tersebut dirakit di tepi Sungai Bedadung pada malam sebelum penggunaan.

Rakit bambu dipakai setiap pagi ketika arus sungai berada dalam kondisi normal, memungkinkan anak‑anak menyeberang ke sekolah di sisi selatan. Wali murid mengawasi proses penyeberangan untuk mencegah kecelakaan.

Namun, ketika debit air meningkat atau arus menjadi liar, penggunaan rakit menjadi sangat berisiko. Kapolsek Sudarsono memperingatkan bahwa “Jika arus sungai Bedadung naik, rakit bambu tidak aman untuk menyeberang”.

Dalam kondisi cuaca ekstrem, siswa terpaksa menempuh jalur darat yang jauh, baik dengan bersepeda sendiri maupun diantar orang tua melalui Desa Kaliwining. Perjalanan tersebut memakan waktu tiga sampai empat jam.

Akibat kesulitan transportasi, tingkat kehadiran siswa di SDN 2 Jubung menurun sekitar 12 persen selama bulan Februari hingga awal April. Beberapa orang tua melaporkan anak mereka harus melewatkan pelajaran karena tidak dapat menyeberang.

Selain dampak pendidikan, pedagang lokal mengalami penurunan pendapatan karena akses pasar terhambat. Produk pertanian dan hasil laut yang biasanya dijual di pasar Ajung kini harus diangkut lewat rute alternatif yang lebih mahal.

Warga desa secara bersama‑sama menulis surat permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Jember, menuntut perbaikan permanen jembatan Darungan. Mereka menekankan bahwa keselamatan anak-anak dan kelancaran aktivitas ekonomi sangat bergantung pada penyelesaian infrastruktur ini.

Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Pekerjaan Umum mengonfirmasi bahwa survei teknis sedang berlangsung, namun belum ada jadwal pasti untuk memulai konstruksi kembali. Pejabat setempat menyatakan bahwa dana belum tersedia secara optimal.

Sampai saat artikel ini dipublikasikan, jembatan Darungan masih berada dalam kondisi runtuh dan belum ada tanda-tanda perbaikan. Rakit bambu tetap menjadi satu‑satunya sarana penyeberangan bagi siswa yang tinggal di sisi utara Sungai Bedadung.

Komunitas berharap agar bantuan dana dan tenaga kerja segera diarahkan untuk membangun jembatan pengganti yang kuat, sehingga anak‑anak tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa demi menuntut ilmu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.