Media Kampung – Dalam balutan jubah abu-abu sederhana, Biksu Deoksan dengan luwes melakukan chest popping ala koreografi lagu BAD dari ATEEZ. Biksu Deoksan mungkin bukan seorang idol, tapi ia telah dijuluki ‘G-DRAGON di Dunia Buddha’. Biksu Deoksan terkenal setelah menari diiringi lagu Good Boy milik G-DRAGON dan Taeyang pada ajang Buddhist Expo di April. Ia juga pernah tampil membawakan koreograf Billie Jean milik Michael Jackson pada Festival Lentera Teratai di Mei.

Di usianya yang menginjak 60-an, gerakan tari tidak biasa Biksu Deoksan telah membuatnya mendapatkan berbagai julukan unik, seperti ‘G-DRAGON di Dunia Buddha’, ‘Deoksan Daegong’, dan ‘Michael Jack-sunim’, sebuah permainan kata dari Michael Jackson dan kata Korea untuk biksu, ‘sunim’.

Meski terlihat lihai menari di panggung, nyatanya Biksu Deoksan mengaku buta nada. Ia mengaku bukan orang yang tumbuh di dunia musik. “Saya buta nada, tidak memiliki rasa irama, dan pemalu, sehingga saya selalu merasa canggung dengan hal-hal yang berbau hiburan. Bahkan ketika masih hidup di dunia sekuler, saya sangat pemalu hingga tidak akan pernah berani naik ke atas panggung,” tuturnya, dikutip The Korea Times.

Berbeda dengan penampilannya yang bebas dan lepas di atas panggung, biksu ini sosok yang tenang dan pendiam dalam kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang sebenarnya jauh dari dunia tari. Namun, ada alasan khusus ia akhirnya belajar menari. “Sebagai seorang praktisi spiritual, saya berharap ini dapat membantu saya menyampaikan ajaran Buddha dengan cara yang lebih mudah diakses,” ujarnya.

Lebih jauh, ia memandang menari sebagai salah satu bentuk praktik keagamaan Buddha. “Praktik spiritual berarti melakukan hal-hal yang tidak ingin Anda lakukan. Karena saya tidak ingin menari, saya berpikir, ‘Kalau begitu saya harus menantang diri saya untuk melakukannya’,” katanya.

Demi belajar menari, Biksu Deoksan harus menempuh perjalanan pulang pergi selama empat jam dari kuil ke akademi tari. Baginya, itu juga bagian dari praktik spiritual sekaligus cara berkomunikasi dengan generasi muda. “Sebagian besar orang di kuil sudah berusia lanjut, jadi pikiran pertama saya yakni ‘Bagaimana saya bisa membagikan ajaran Buddha yang luar biasa ini kepada anak-anak muda’,” ungkapnya.

Ketika pertama kali mulai menari, ia tidak pernah membayangkan respons yang diterimanya saat ini. Ia bahkan sempat khawatir ordo keagamaan Buddha akan melarangnya melanjutkan hidup sebagai biksu. Namun, bertolak belakang dengan kekhawatirannya, tanggapannya justru positif. “Mengejutkannya, sebagian besar biksu menyukainya,” katanya.

Hampir 90 persen komentar pada videonya, menurutnya, bernada positif, sedangkan sekitar 10 persen berupa komentar jahat. Biksu Deoksan percaya bahwa tari dapat melampaui dari sekadar hiburan dan menjadi sarana untuk menyebarkan pesan spiritual yang mendalam.