Media Kampung – Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak sekadar dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Bagi umat Hindu di Bali, momentum suci ini juga dipercaya sebagai waktu khusus bagi roh leluhur (pitara) turun ke dunia untuk menemui sentana (keturunan) dan memberikan anugerah.

Keyakinan ini diungkapkan oleh tokoh spiritual Hindu sekaligus pendiri Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas. Menurutnya, pemahaman tentang ‘turunnya’ leluhur tidak selalu berarti kehadiran fisik, melainkan lebih pada kehadiran spiritual atau berkah yang dirasakan keturunan selama periode hari suci.

Hubungan Spiritual yang Tak Terputus

Dalam teologi Hindu Bali, terdapat hubungan spiritual yang terus terjalin antara keluarga yang masih hidup dengan para leluhur. Galungan dan Kuningan menjadi waktu sakral untuk mengingat, menghormati, dan memohon doa restu. Ida Bhawati menjelaskan bahwa ikatan spiritual dan penghormatan kuat dari sentana kepada pitra menjadi alasan mengapa kedua hari raya ini identik dengan kehadiran leluhur.

Galungan melambangkan kemenangan Dharma, sehingga diyakini para dewa dan roh suci leluhur ikut turun memberikan berkah melimpah kepada umat yang konsisten menjalankan kebenaran. Persembahan yang diberikan anak-cucu menjadi wujud bakti dan rasa syukur.

Kuningan: Batas Akhir Kehadiran Leluhur

Sepuluh hari setelah Galungan, pada hari Kuningan, dipercaya sebagai batas akhir keberadaan roh leluhur di dunia fisik. “Pada hari Kuningan diyakini para leluhur dan kekuatan suci akan kembali ke alamnya setelah menerima penghormatan dari keluarga yang ditinggalkan,” kata Ida Bhawati.

Sarana upakara saat Kuningan sarat makna filosofis. Endongan (tas perbekalan) menjadi simbol bekal bagi leluhur dan pengingat bagi manusia bahwa hidup adalah perjalanan panjang yang memerlukan bekal materi dan spiritual. Tamiang (perisai) melambangkan perlindungan diri dan perputaran roda alam (Cakra Manggilingan). Ter Panah (senjata) menyimbolkan ketajaman pikiran dan ketenangan bertindak. Sampian Gantung berfungsi sebagai penolak bala.

Kombinasi sarana ini mengingatkan bahwa hidup adalah medan pertempuran (Bharatayuddha) dalam diri sendiri. Untuk memenangkan Dharma atas Adharma, bekal utama bukan harta, melainkan Jnana (ilmu pengetahuan suci) dan ketenangan pikiran. Hari Raya Kuningan menuntun manusia untuk selalu uning (tahu-paham) dan eling (ingat-sadar) mengisi diri dengan kebajikan, memperisai diri dari ego, dan melangkah di jalan kebenaran.

Kepercayaan mengenai leluhur yang datang saat Galungan dan Kuningan merupakan ciri khas kuat umat Hindu Bali dan menjadi bagian penting dari penghormatan kepada leluhur.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.