Media Kampung – Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Rabu (14/10) merilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS untuk periode September 2026, yang menunjukkan kenaikan yang melampaui ekspektasi. Data tersebut mencatat CPI tahunan (YoY) sebesar 3,7%, lebih tinggi dari ekspektasi 3,6% dan meningkat dari 3,4% pada Agustus 2026.

Secara bulanan (MoM), CPI juga mencatat kenaikan sebesar 0,6%, sejalan dengan ekspektasi dan naik dari 0,4% pada bulan sebelumnya. Selain itu, Core CPI YoY tercatat sebesar 2,6%, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi 2,5%, dan Core CPI MoM naik 0,3% dibandingkan ekspektasi 0,2%.

Kenaikan harga bensin yang mencapai 9,1% MoM menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan. Secara tahunan, indeks harga energi mengalami lonjakan sebesar 20,4% YoY.

Setelah rilis data inflasi tersebut, peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026 meningkat dari 22% sebelum data dirilis menjadi 44%, menurut analisis dari CME FedWatch Tool. Meskipun demikian, pasar masih memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini.

Sementara itu, yield obligasi AS tenor 10 tahun menurun 4 basis poin ke level 5,19%, setelah sempat mencapai lebih dari 5,3% secara intraday. Indeks dolar AS (DXY) juga mengalami kenaikan sebesar 0,4% ke level 102,5. Indeks saham S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sebesar 1,1% dan 1,9%, dan harga emas turun 1,3% ke kisaran US$4.100 per ounce.

IHSG ditutup turun 1,3% menjadi 5.864 pada Kamis (15/10), terutama dipengaruhi oleh saham BREN, DSSA, dan BBCA, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,2% menjadi 17.938 dan yield SBN tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 7,25%.

Meski probabilitas kenaikan suku bunga meningkat setelah rilis data inflasi, konsensus tampak terbelah terkait keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober 2026. Ketidakpastian ini terlihat dari pergerakan harga emas yang kembali naik 1% YoY pada intraday Kamis (15/10), sementara DXY dan yield obligasi AS tenor 10 tahun mengalami penurunan.

Menurut US Rates Strategist di TD Securities, Molly Brooks, peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga AS bertentangan dengan pernyataan beberapa pejabat The Fed yang lebih dovish, yang ingin menunggu untuk memberikan pasar waktu mencerna kenaikan suku bunga terakhir.

Sementara IHSG melemah lebih dari 1% pada perdagangan hari ini, analisis menunjukkan bahwa pelemahan ini tidak begitu berkaitan dengan perkembangan eksternal, mengingat investor asing justru mencatatkan foreign inflow sebesar Rp566 miliar pada hari ini.