Media Kampung – Ada lima saham yang masuk radar kami memiliki valuasi yang super murah, tercermin dari PBV terkini yang sudah berada tepat atau di bawah -2 standar deviasinya. Lalu, bagaimana memahami sinyal saham murah ini?

Key Takeaways

  • Lima saham yang masuk radar valuasi murah adalah BRIS, CPIN, dan TBIG yang memiliki PBV di bawah -2 standar deviasi.
  • MTEL dan NISP tepat di batas tersebut.
  • Namun, valuasi murah bukan jaminan harga saham akan segera rebound.

Katalis dan Risiko

Katalis dan risiko tiap saham berbeda. BRIS berencana rights issue jumbo hingga 6,8 miliar saham, CPIN menghadapi perubahan indeks MSCI, sedangkan MTEL dan TBIG masuk daftar HSC BEI. NISP ditopang pertumbuhan kredit dan pendapatan non-bunga yang kuat.

Fundamental Tetap Jadi Kunci

Pertumbuhan laba BRIS, pemulihan kinerja CPIN, ekspansi fiber dan kolokasi MTEL-TBIG, serta pertumbuhan kredit NISP bisa menjadi katalis. Namun, penting untuk memahami apa arti PBV band dan posisi -2 standar deviasi.

Apa Itu PBV Band dan -2 Standar Deviasi?

PBV (Price to Book Value) membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Sementara itu, PBV band menggambarkan rentang valuasi historis saham, biasanya dilengkapi garis rata-rata dan batas berdasarkan standar deviasi. Pada PBV band, saham disebut murah secara historis kalau nilainya sudah di bawah rata-rata; semakin dalam turunnya, maka semakin murah. Biasanya, -2 standar deviasi menjadi area paling bawah. Oleh karena itu, saham yang PBV-nya menyentuh area tersebut bisa dianggap berada di area valuasi yang sangat murah dibandingkan historisnya.

Perbandingan Valuasi dari 5 Saham

BRIS, CPIN, dan TBIG memiliki PBV di bawah batas -2 standar deviasi. Sementara itu, MTEL dan NISP berada tepat pada batas tersebut. Kondisi ini bisa menjadi titik awal untuk mencari peluang. Meski begitu, kondisi ini bukan jaminan saham sudah undervalued atau harganya akan segera naik. Kinerja fundamental dan prospek bisnisnya tetap perlu diperiksa.

Ulasan Saham

Saham BRIS

Pertama dari BRIS yang punya katalis penting mau rights issue sampai 6,8 miliar lembar saham baru. Aksi korporasi ini masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 6 November 2026 serta pernyataan efektif dari OJK. Harga pelaksanaan dan jumlah saham final belum ditentukan, sehingga nilai dana yang akan dihimpun masih belum bisa dipastikan. Seluruh dana hasil rights issue nantinya akan digunakan untuk mendukung penyaluran pembiayaan dan memperkuat modal.