Media Kampung, Jakarta – Proyeksi perekonomian global sampai akhir tahun 2026 dan awal 2027 diperkirakan membaik. Berdasarkan data OECD, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan sebesar 2,8% dan 2027 sebesar 3,1%. Namun, pemulihan kondisi ekonomi tersebut masih rentan terhadap risiko global, yaitu persoalan geopolitik, perang dagang, gangguan logistik, dan sektor keuangan.

Hal itu dikatakan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam paparannya pada Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXX TA. 2026 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), di Jakarta.

Menurut Susiwijono, beberapa implikasi terhadap perekonomian Indonesia antara lain adalah terjadi tekanan terhadap harga energi dan komoditas domestik, serta menimbulkan volatilitas nilai tukar dan aliran modal menjadi lebih tinggi. Meski begitu, permintaan eksternal diharapkan mulai membaik, sehingga ekspor dapat meningkat kembali ke depannya.

“Di tahun 2027 relatif lebih optimis, baik itu terkait perhitungan pertumbuhan global maupun kita di Indonesia. Untuk itu, perlu memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk meredam dampak tekanan global,” jelasnya.

Susiwijono memastikan ekonomi Indonesia masih akan bertumbuh kuat dan berkelanjutan di tengah dinamika global, dengan pertumbuhan ekonomi di semester I-2026 yang tercatat 5,45%, termasuk yang tertinggi di antara Negara-Negara Anggota G20 lainnya. Inflasi di Agustus 2026 yakni 3,19% (yoy) atau masih terkendali dalam rentang sasaran 2,5% – 3%.

Kemudian, realisasi investasi di semester I-2026 adalah Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2% (yoy). Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 tercatat di angka 118,5, yang menunjukkan tingkat optimisme yang masih tinggi.

Menurut Susiwijono, Kemenko Perekonomian mengoordinasikan sektor prioritas dan inisiatif strategis dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi untuk periode 2025-2029. Sektor-sektor tersebut antara lain:

  • Sektor manufaktur dengan rencana pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dan industri semikonduktor.
  • Revitalisasi industri padat karya.
  • Sektor ekonomi digital dengan rencana pembangunan data center di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
  • Sektor energi dengan mendorong keamanan energi dan meningkatkan penggunaan energi bersih.

Mengenai percepatan produktivitas, dilakukan beberapa program untuk meningkatkan kualitas SDM seperti Program Vokasi dan Program Magang Nasional, serta peningkatan akses pembiayaan untuk sektor-sektor produktif dan berorientasi ekspor. Hal-hal tersebut termasuk dalam strategi kebijakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Strategi kebijakan tersebut terdiri atas tiga mesin, yaitu:

  1. Merevitalisasi mesin ekonomi konvensional.
  2. Membangun mesin ekonomi baru.
  3. Peningkatan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia.