Media Kampung, Jember – Politeknik Negeri Jember (Polije) menyerahkan satu unit insinerator kepada Bank Sampah Unit (BSU) Catalya Jember sebagai upaya pengelolaan sampah residu yang tidak dapat didaur ulang secara konvensional. Penyerahan alat ini dilakukan di MTsN 5 Jember pada Kamis, 24 September 2026, melalui program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema UMKM Binaan yang didanai oleh PNBP Polije tahun 2026.
Inovasi Insinerator Ramah Lingkungan
Insinerator yang diserahkan memiliki tinggi sekitar tiga meter dan dirancang khusus dengan menggunakan bata tahan panas serta memanfaatkan aliran udara alami, sehingga alat ini dapat beroperasi tanpa membutuhkan listrik. Ketua tim pengabdian, Warit Abi Nurazaq, menyampaikan bahwa desain alat ini mempertimbangkan kemudahan penggunaan dan perawatan agar dapat dioperasikan mandiri oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Pelatihan dan Edukasi Pengelolaan Sampah
Selain penyerahan insinerator, Polije juga mengadakan sosialisasi kepada 17 peserta yang terdiri dari pengurus BSU Catalya, guru, tenaga kependidikan, dan siswa MTsN 5 Jember. Materi yang diberikan mencakup pemilahan sampah, cara mengoperasikan insinerator, keselamatan kerja, serta pengelolaan abu hasil pembakaran. Penempatan alat di lingkungan madrasah juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Demonstrasi dan Pendampingan Berkelanjutan
Setelah sosialisasi, peserta melakukan demonstrasi pengoperasian insinerator dengan membakar sampah residu bersama pengurus BSU Catalya. Polije berkomitmen untuk terus mendampingi BSU Catalya melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penjadwalan pembakaran, dan pemantauan volume sampah yang diolah. Pendampingan ini bertujuan agar pengelolaan sampah residu dapat berjalan secara mandiri, terkontrol, serta menjadi bagian dari edukasi lingkungan di madrasah dan masyarakat sekitar.
Manfaat dan Dampak Positif
Penggunaan insinerator ini membantu mengurangi volume sampah residu yang sulit diolah melalui proses daur ulang konvensional, sehingga dapat memperbaiki pengelolaan sampah di tingkat komunitas. Selain itu, keberadaan alat di lingkungan sekolah menjadi media pembelajaran praktis tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, mendorong generasi muda untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.












Tinggalkan Balasan