Media Kampung, Jakarta – MRT Jakarta tengah mengembangkan kawasan berorientasi transit (TOD) dengan tujuan memperbesar sumber pendapatan non-tiket dan mendukung kemandirian finansial perusahaan. Strategi ini melibatkan pengelolaan aset di sekitar stasiun, pengembangan mixed-use building, serta kolaborasi dengan mitra dan investor.

Pendapatan non-farebox saat ini memberikan kontribusi sekitar 30 persen dari total pendapatan MRT Jakarta, dengan seperempat di antaranya berasal dari luar stasiun. Salah satu sumber pendapatan non-farebox terbesar adalah hak penamaan stasiun dan kawasan TOD, seperti yang dilakukan oleh PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada Blok M Hub.

Pembangunan dan Pengelolaan Kawasan TOD

MRT Jakarta telah mengelola dua kawasan utama, yaitu Blok M Hub yang berfokus pada gaya hidup, komersial, dan komunitas, serta Transport Hub Dukuh Atas yang menjadi pusat mobilitas, konektivitas, dan aktivitas urban. Transport Hub merupakan bangunan mixed-use yang menggabungkan fungsi perkantoran, kampus, hotel, pujasera, dan fasilitas pemberhentian Transjakarta, dengan tingkat okupansi tenant yang tinggi.

Pengembangan kawasan TOD ini terinspirasi dari model Hong Kong yang berhasil meningkatkan pendapatan non-tiket lebih dari 50 persen melalui pengembangan fungsi campuran di atas stasiun MRT. Pemerintah Hong Kong juga mendukung MTR Corporation dengan memberikan bank tanah untuk pengembangan bisnis properti.

Strategi Pengembangan dan Investasi

Selain mengandalkan anggaran internal, MRT Jakarta berencana menggandeng mitra dan investor, termasuk dari Asia Tenggara dan Hong Kong, untuk memperluas pengembangan kawasan TOD dan proyek infrastruktur pendukung seperti Pedestrian Deck Dukuh Atas dan Extended Concourse Bundaran HI.

Rencana pengembangan juga mencakup beberapa kawasan baru seperti Stasiun Kota Tua, Stasiun Thamrin, dan Lebak Bulus Park Ride dengan fokus pada fungsi mixed-use yang mendukung mobilitas dan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Inovasi Pengelolaan Sampah dan Lingkungan

MRT Jakarta juga tengah mengembangkan proyek pengelolaan sampah yang mencakup pemilahan sampah, pengolahan sampah plastik, dan limbah minyak jelantah. Proyek ini dilakukan bersama mitra untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di kawasan TOD.

MRT Jakarta tidak hanya mengelola moda transportasi publik, tetapi juga membangun ekosistem kawasan yang hidup dan bernilai ekonomi, guna mengurangi ketergantungan pada subsidi pemerintah dan mewujudkan kemandirian finansial.