Media Kampung, Jakarta – Sopir bajaj yang mangkal di kawasan Stasiun Gambir menghadapi berbagai tantangan dalam mencari nafkah. Pendapatan yang tidak menentu dan persaingan ketat dengan moda transportasi modern membuat pekerjaan ini semakin sulit, namun sebagian sopir tetap menunjukkan kepedulian sosial yang menginspirasi.

Suratno, sopir bajaj berusia 54 tahun, telah menggeluti pekerjaan ini selama sekitar dua dekade. Ia harus membayar setoran harian sebesar Rp 70 ribu kepada pemilik kendaraan yang dikemudikannya. Namun, pendapatan harian yang diperoleh seringkali jauh dari cukup. Dalam satu kesempatan, Suratno hanya mendapatkan Rp 30 ribu dan sebagian besar digunakan untuk makan, menyisakan sedikit uang untuk kebutuhan lain.

Menurut Suratno, pandemi COVID-19 dan kemunculan layanan ojek serta mobil online turut mengurangi jumlah penumpang bajaj. Ia bahkan pernah menunggu penumpang dari pagi hingga pagi hari berikutnya dan terpaksa menginap di sekitar stasiun karena tidak memiliki biaya pulang. Selain itu, Suratno juga pernah mengalami penipuan dari penumpang yang kabur tanpa membayar ongkos, namun ia memilih memaafkan dan tetap menjalankan pekerjaannya dengan hati ikhlas.

Meski menghadapi kesulitan, Suratno tetap bersedia mengantar penumpang dengan kemampuan finansial terbatas, termasuk nenek-nenek dan ibu hamil, sebagai bentuk kepedulian sosial di tengah perjuangan hidup sehari-hari.

Perjuangan Yusuf Mengasuh Anak Yatim di Tengah Kesulitan

Yusuf atau yang dikenal dengan panggilan Bang Demang, sopir bajaj berusia 41 tahun, telah bekerja selama 15 tahun. Dahulu, ia sempat memiliki empat bajaj, namun kini ia hanya menarik bajaj milik orang lain dengan sistem setoran harian antara Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu. Pendapatan yang diperoleh kadang tidak cukup menutupi setoran dan kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga Yusuf pernah sempat beralih menjadi pemulung selama tiga bulan.

Di tengah perjuangan mencari nafkah, Yusuf mengasuh empat anak yatim dan dua anak kandungnya. Anak-anak yatim tersebut merupakan keluarga teman yang meninggal dunia dan anak-anak yang ditemuinya saat bekerja. Yusuf menggunakan sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan mereka, sekaligus berharap suatu saat dapat membeli bajaj sendiri agar tidak lagi harus membayar setoran harian.

Keyakinan dan tanggung jawab menjadi motivasi utama Yusuf bertahan dalam pekerjaan ini. Ia berharap kondisi ekonomi membaik dan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya dan anak-anak yang diasuhnya.

Tantangan dan Harapan Sopir Bajaj di Era Modern

Persaingan dengan transportasi berbasis aplikasi dan tekanan ekonomi membuat pekerjaan sopir bajaj menjadi semakin berat. Penghasilan yang tidak pasti dan biaya operasional yang tinggi menuntut ketangguhan dan kesabaran para sopir. Namun, semangat untuk bertahan dan membantu sesama, seperti yang ditunjukkan Suratno dan Yusuf, memberikan gambaran sisi kemanusiaan di balik pekerjaan yang sering dianggap sederhana ini.

Harapan mereka adalah agar lebih banyak masyarakat kembali menggunakan jasa bajaj sehingga kehidupan sopir bajaj dapat membaik dan keberadaan bajaj tetap menjadi bagian dari transportasi publik yang ramah dan terjangkau di Jakarta.