Media Kampung, Jakarta – Profesi porter di Stasiun Gambir, Jakarta, tidak sekadar mengangkut koper atau barang bawaan penumpang. Ahmad (25) dan Warsito (34), dua porter yang telah bertahun-tahun bekerja di stasiun ini, berbagi pengalaman unik dan tantangan yang mereka hadapi selama melayani penumpang.

Pengalaman Ahmad Membantu Penumpang dengan Cara Tak Biasa

Ahmad telah bekerja sebagai porter selama empat tahun. Dalam pekerjaannya, ia pernah menghadapi situasi yang tidak terduga, seperti menggendong bayi milik seorang penumpang yang hampir ketinggalan kereta tujuan Bandung. Saat menggendong bayi tersebut, Ahmad bahkan terkena kotoran bayi, namun ia tetap sigap membantu hingga penumpang dan bayinya berhasil naik kereta tepat waktu.

Selain itu, Ahmad juga pernah membantu seorang perempuan yang terjatuh di dekat jalur pejalan kaki ketika keretanya hampir berangkat. Karena waktu mepet, perempuan itu dimintanya diantar sampai ke peron dengan digendong. Pengalaman-pengalaman seperti ini menunjukkan komitmen porter dalam memberikan pelayanan terbaik.

Rutinitas dan Penghasilan Porter di Stasiun Gambir

Pekerjaan porter biasanya lebih sibuk pada pagi hari, saat banyak penumpang berangkat. Ahmad memulai kerja sekitar pukul 08.00 WIB dan menyesuaikan aktivitasnya dengan kepadatan penumpang di stasiun. Selain membantu mengangkut barang, porter juga menjaga kebersihan area stasiun dengan bergantian melakukan kerja bakti menyapu area stasiun pada siang dan malam hari.

Penghasilan Ahmad bervariasi tergantung jumlah penumpang yang dibantu, dengan kisaran sekitar Rp 140 ribu setelah membantu lima penumpang. Menurutnya, menjadi porter memberikan kestabilan dibandingkan pekerjaan proyek yang bergantung kontrak.

Warsito dan Tantangan Menghadapi Beragam Karakter Penumpang

Warsito, porter yang telah bekerja selama 10 tahun di Stasiun Gambir, berbagi pengalamannya menghadapi berbagai karakter penumpang, mulai dari yang ramah hingga yang sulit diajak bekerja sama. Ia juga pernah menghadapi kasus penumpang yang salah menyebutkan nama kereta sehingga berujung tertinggal kereta, meski sudah dibantu porter.

Untuk menentukan tarif jasa, Warsito menggunakan aplikasi e-Porter dari KAI Wisata yang menetapkan harga berdasarkan jumlah dan ukuran barang bawaan. Tarif standar sekitar Rp 38.000 untuk dua barang berukuran besar, dengan negosiasi jika barang lebih banyak.

Pelayanan Khusus dan Harapan Masa Depan

Bagi penumpang yang membutuhkan pendampingan khusus, seperti tunanetra, lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil, porter memberikan bantuan secara sukarela tanpa meminta imbalan. Namun, ada penumpang yang secara sukarela memberikan tip sebagai bentuk apresiasi.

Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai porter, Warsito mengandalkan penghasilan dari profesinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia berharap minat masyarakat terhadap kereta api semakin meningkat sehingga peluang penghasilan porter juga bertambah.

Peran Porter dalam Mendukung Pelayanan Transportasi Kereta Api

Profesi porter di Stasiun Gambir memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran dan kenyamanan penumpang. Tidak hanya membantu mengangkut barang, mereka juga siap memberikan bantuan dalam situasi yang mendesak dan menghadapi berbagai karakter penumpang dengan sabar serta profesionalisme.

Kisah Ahmad dan Warsito menggambarkan dedikasi para porter yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman naik kereta api di Stasiun Gambir, sekaligus sosial ekonomi yang menopang kehidupan mereka dan keluarga.