Media Kampung – Girlband asal Indonesia, No Na, sukses membawa nuansa budaya Indonesia dalam penampilan mereka di festival musik Head in the Clouds (HITC) Los Angeles 2026 yang digelar pada 8 Agustus 2026. Mereka memukau penonton dengan membawakan delapan lagu yang menggabungkan elemen tradisional dan modern, termasuk tembang Jawa “Lelo Ledung” dan sentuhan tari kipas pakarena dari Gowa.
Perpaduan Budaya dan Musik Modern
<pPenampilan No Na dibuka dengan lagu "Lelo Ledung" yang bukan hanya sekadar lagu tradisional Jawa, melainkan mengandung pesan kuat tentang menjadi pribadi yang tangguh, membanggakan, dan berbudi luhur. Keempat personel, Baila Fauri, Christy Gardena, Esther Geraldine, dan Shazfa Adesya, naik ke panggung dengan iringan lagu tersebut, diikuti oleh lagu "Superstitious" dan lagu debut mereka "Shoot".
Penggunaan kipas sebagai properti tari latar yang terinspirasi dari tari kipas pakarena asal Gowa menambah kekayaan visual dan budaya dalam pertunjukan mereka. Energi No Na semakin terasa saat membawakan lagu baru mereka “honk” yang diiringi dengan ciri khas “om telolet om” yang ikonik, serta aksi Christy yang melakukan koprol satu tangan di atas panggung.
Repertoar Lagu dan Energi Panggung
Setelah jeda singkat, No Na kembali dengan lagu “Falling in Love” yang disertai tari penuh energi tanpa menggunakan mikrofon genggam. Mereka juga memperkenalkan lagu terbaru mereka “Seafood Diet” yang akan menjadi bagian dari album perdana “Island Girl” yang dijadwalkan rilis pada 18 September 2026.
Suasana makin hidup saat lagu “work” dimainkan, lagu yang sempat viral berkat instrumen unik dan tarian ikoniknya. Christy menyapa penonton dengan canda yang mengajak semangat bekerja keras, sebelum menutup penampilan dengan lagu “Rollerblade II” yang menampilkan lirik campuran bahasa Jawa dan Inggris, menambah keunikan dan kedalaman budaya dalam karya mereka.
Kontribusi No Na dalam Gelaran Musik Asia
No Na menjadi salah satu dari sekitar 15 musisi Asia yang tampil di HITC LA 2026, bersama dengan nama-nama seperti Warren Hue dan Rich Brian. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat posisi musik Indonesia di kancah internasional, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara melalui seni musik modern.
Penampilan No Na di festival ini menjadi bukti nyata bagaimana musik dapat menjadi medium yang efektif untuk menyebarkan identitas budaya sekaligus merangkul inovasi dan tren global. Dengan kombinasi musik yang energik dan sentuhan budaya tradisional, No Na berhasil menyuguhkan pertunjukan yang memikat dan bermakna bagi penonton internasional.














Tinggalkan Balasan