Media Kampung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus hingga September dengan potensi peningkatan hotspot atau titik panas yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena El Nino 2026 yang telah memasuki kategori kuat menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi musim kemarau tahun ini, terutama di wilayah selatan garis khatulistiwa seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan. Meski demikian, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini tidak akan sekering El Nino 1997 yang tercatat sebagai salah satu musim kemarau terparah.
Perkiraan Kondisi Kemarau 2026
Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab menjelaskan berdasarkan analisis peluang hujan bulanan, musim kemarau 2026 secara umum diperkirakan tidak lebih kering dibandingkan El Nino 1997. Namun, beberapa wilayah seperti Kalimantan, Papua, dan Jawa pada periode September hingga November 2026 berpotensi mengalami kondisi lebih kering dengan probabilitas mencapai 80-90 persen.
Pada bulan Agustus, peluang kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan 1997 tidak terlihat signifikan. Namun, mulai September hingga November sejumlah wilayah menunjukkan potensi kekeringan yang meningkat, terutama di sebagian besar Kalimantan, Papua, dan beberapa daerah di Pulau Jawa.
Risiko Peningkatan Hotspot dan Karhutla
Kondisi lahan yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fachri menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan BMKG hingga 2 Agustus 2026, tercatat sekitar 5.690 titik panas tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September, potensi munculnya hotspot diperkirakan akan semakin meningkat.
Perbandingan dengan El Nino Sebelumnya
BMKG juga membandingkan karakteristik El Nino 2026 dengan kejadian El Nino dalam 15 tahun terakhir, yaitu tahun 2015, 2019, dan 2023. Hasil analisis menunjukkan pola kemarau 2026 lebih mendekati kondisi El Nino 2023, yang meskipun kuat, tidak menyebabkan kemarau ekstrem seperti pada 1997.
Upaya Antisipasi
Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau tahun ini, terutama terkait risiko kebakaran hutan dan lahan. Pengelolaan lahan yang baik serta kesiapsiagaan dalam penanganan hotspot menjadi langkah penting dalam mengurangi potensi kerugian akibat karhutla.
Dengan pemahaman terhadap pola kemarau dan hotspot yang meningkat, diharapkan langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat waktu guna menjaga keselamatan lingkungan dan masyarakat.















Tinggalkan Balasan