Media Kampung – Keselamatan dan efisiensi ruang udara di Indonesia kini memasuki babak baru. Momentum peringatan Hari Pemandu Lalu Lintas Udara Sedunia pada Selasa (21/10/2026) menjadi pijakan AirNav Indonesia untuk merombak serta memperkuat totalitas layanan navigasi penerbangan nasional.

Penguatan Layanan Navigasi Penerbangan

Penguatan tersebut menyasar tiga aspek utama, yakni modernisasi sistem otomasi navigasi di empat pusat pelayanan utama, peningkatan fasilitas operasional, dan pengasahan kompetensi para Air Traffic Controller (ATC) sebagai garda terdepan keselamatan penerbangan. Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, mengungkapkan bahwa pengembangan ini diarahkan untuk mendukung keselamatan, keandalan, dan efisiensi pelayanan.

Modernisasi Sistem

“Komitmen itu kami wujudkan melalui pembaruan sistem dan fasilitas, penguatan kemampuan personel, serta pengembangan prosedur operasional. Pemandu lalu lintas udara harus didukung perangkat yang andal dan informasi yang memadai agar dapat mengambil keputusan secara tepat,” ujar Avirianto dalam keterangan resminya.

Air Traffic Management Automation System (ATMAS)

Langkah konkret modernisasi ini terlihat dari pengoperasian Air Traffic Management Automation System (ATMAS) generasi terbaru. AirNav telah memasang sistem otomasi pengelolaan lalu lintas udara ini secara bertahap sejak November 2025 hingga resmi beroperasi penuh di New Jakarta Air Traffic Services Center (JATSC) pada 16 Juni 2026, mencakup wilayah pelayanan Jakarta, Medan, Pontianak, dan Balikpapan.

Penerapan Free Route Operation

Selain memperbarui perangkat lunak operasional, AirNav juga menerapkan Free Route Operation (FRTO). Fitur ini memberikan fleksibilitas bagi maskapai penerbangan untuk merencanakan rute jelajah yang lebih efisien dan hemat waktu, serta menyesuaikan dengan kondisi cuaca aktual. Inovasi FRTO terbukti membuahkan hasil signifikan dengan meningkatnya jumlah penerbangan yang memanfaatkan rute efisien ini.

Hasil dan Implikasi

Sepanjang 2025, sebanyak 5.030 penerbangan memanfaatkan rute efisien ini di ruang udara Jakarta dan Ujung Pandang, melonjak 82 persen dari angka 2.770 penerbangan pada 2024. Pemanfaatan FRTO ini sukses memangkas biaya bahan bakar maskapai hingga USD8,04 juta dan mereduksi emisi karbon dioksida sebesar 5.426 ton.