Media Kampung – 10 April 2026 | PGEO kembali memperoleh sertifikat PROPER Emas setelah dinilai ulang pada kuartal ini. Penilaian tersebut mencerminkan pencapaian perusahaan dalam pengelolaan energi dan pengurangan emisi.
Lembaga Pengembangan Lingkungan Hidup (LP LH) melakukan audit menyeluruh terhadap praktik operasional PGEO. Audit menilai aspek energi, udara, limbah, dan tata kelola.
Hasil audit menunjukkan bahwa konsumsi energi perusahaan turun sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dicapai melalui penerapan teknologi hemat energi pada jaringan pipa dan fasilitas produksi.
Selain itu, intensitas emisi karbon dioksida (CO2) PGEO berkurang 15% secara tahunan. Pengurangan ini sejalan dengan target dekarbonisasi yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Manajemen PGEO mengimplementasikan sistem monitoring real‑time untuk mengidentifikasi kebocoran gas. Sistem ini memungkinkan respons cepat sehingga mengurangi kehilangan energi.
Investasi pada peralatan kompresor berkecepatan tinggi dan motor inverter juga berkontribusi pada efisiensi. Peralatan tersebut menyesuaikan beban kerja secara otomatis, mengoptimalkan penggunaan listrik.
Program pelatihan karyawan mengenai praktik hemat energi diluncurkan pada awal tahun. Pelatihan tersebut meningkatkan kesadaran operasional dan menurunkan perilaku pemborosan.
CEO PGEO, Budi Santoso, menyatakan, “Pencapaian PROPER Emas adalah bukti komitmen kami terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.” Pernyataan tersebut menegaskan fokus strategis perusahaan.
Ia menambahkan bahwa sertifikasi ini memperkuat posisi PGEO di pasar energi nasional. Investor dan mitra bisnis kini memiliki keyakinan lebih terhadap risiko lingkungan perusahaan.
PROPER (Rating Perusahaan Pengelola Lingkungan) merupakan skema penilaian yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup. Skema ini menilai perusahaan berdasarkan kriteria energi, air, limbah, dan tata kelola.
Sertifikat Emas berada pada tingkatan tertinggi, menandakan kinerja lingkungan yang sangat baik. Hanya sejumlah kecil perusahaan di Indonesia yang berhasil meraih level ini.
PGEO sebelumnya pernah memperoleh rating PROPER Emas pada tahun 2021. Namun, rating tersebut turun menjadi perak pada audit berikutnya karena penurunan kinerja energi.
Perbaikan signifikan pada 2024 mengembalikan rating perusahaan ke level emas. Langkah-langkah korektif meliputi audit internal dan penyesuaian kebijakan operasional.
Selain efisiensi energi, PGEO meningkatkan program pengelolaan limbah cair. Instalasi pengolahan limbah kini menghasilkan air yang dapat didaur ulang untuk proses pendinginan.
Penggunaan air daur ulang mengurangi kebutuhan air baku sebesar 8%. Upaya ini mendukung konservasi sumber daya air di wilayah operasi.
PGEO juga mengoptimalkan penggunaan bahan bakar pada armada kendaraan operasional. Kendaraan berbahan bakar gas alam kini menggantikan diesel konvensional.
Transisi bahan bakar ini menurunkan emisi NOx dan partikel halus secara signifikan. Data internal mencatat penurunan emisi NOx sebesar 20%.
Dalam laporan tahunan, PGEO mencantumkan target pengurangan intensitas energi sebesar 25% pada 2027. Target ini selaras dengan kebijakan nasional tentang energi bersih.
Manajemen menilai bahwa pencapaian sertifikat emas memperkuat kredibilitas target jangka panjang. Stakeholder dapat menilai kemajuan dengan lebih transparan.
Investor institusional yang mengutamakan ESG (Environmental, Social, Governance) kini menaruh perhatian lebih pada PGEO. Beberapa dana pensiun melaporkan peningkatan alokasi pada saham perusahaan.
Pengamat pasar energi, Rini Hartati, berpendapat, “PROPER Emas meningkatkan daya saing perusahaan dalam industri yang semakin mengedepankan keberlanjutan.” Analisisnya menyoroti tren global.
Ia menambahkan bahwa perusahaan yang gagal beradaptasi akan menghadapi tekanan regulasi dan reputasi. Oleh karena itu, sertifikasi lingkungan menjadi aset strategis.
Pembaharuan infrastruktur jaringan pipa gas juga menjadi bagian dari strategi efisiensi. Pipa baru menggunakan material isolasi yang mengurangi kehilangan energi termal.
Peningkatan ini diproyeksikan mengurangi kehilangan gas hingga 5% per tahun. Efek kumulatif memberikan dampak positif pada biaya operasional.
PGEO berkolaborasi dengan universitas teknik untuk riset teknologi pengolahan gas. Penelitian tersebut mencakup penggunaan katalis ramah lingkungan.
Hasil riset diharapkan dapat diterapkan pada fasilitas kompresi pada 2025. Inovasi ini dapat mempercepat transisi ke energi bersih.
Selain teknologi, perusahaan memperkuat tata kelola lingkungan melalui kebijakan internal. Kebijakan tersebut mewajibkan pelaporan bulanan pada dewan direksi.
Audit eksternal independen akan terus dilakukan untuk memastikan kepatuhan. Hal ini menambah transparansi dan akuntabilitas.
Penerapan prinsip circular economy juga menjadi fokus. Limbah padat dari proses produksi kini diolah menjadi bahan baku sekunder.
Contohnya, residu karbon diubah menjadi bahan bakar padat untuk pembangkit listrik kecil. Inisiatif ini mengurangi volume limbah yang dibuang ke landfill.
PGEO menargetkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam program edukasi energi. Program tersebut mencakup workshop di sekolah-sekolah sekitar area operasi.
Upaya edukatif ini diharapkan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya efisiensi energi sejak dini. Komunitas lokal memberikan respons positif.
Sertifikasi PROPER Emas juga berdampak pada reputasi perusahaan di tingkat internasional. PGEO kini lebih mudah mengakses pasar modal global yang menekankan ESG.
Bank-bank internasional mengakui sertifikasi tersebut sebagai bukti kepatuhan lingkungan. Hal ini dapat menurunkan biaya pinjaman bagi perusahaan.
Secara keseluruhan, pencapaian ini menandai fase baru dalam strategi keberlanjutan PGEO. Perusahaan berkomitmen melanjutkan inovasi untuk mengurangi jejak karbon.
Ke depannya, PGEO akan memperluas program efisiensi ke unit bisnis lain, termasuk distribusi LPG. Diversifikasi ini memperkuat konsistensi kebijakan lingkungan.
Dengan dukungan regulasi pemerintah dan kemauan internal, PGEO siap mempertahankan rating emas. Keberlanjutan menjadi landasan utama dalam setiap keputusan operasional.
Situasi ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara teknologi, kebijakan, dan sumber daya manusia. PGEO menunjukkan bahwa investasi pada keberlanjutan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan.
Penutup, PGEO berhasil mengembalikan sertifikat PROPER Emas melalui serangkaian langkah efisiensi energi dan pengurangan emisi, memperkuat posisi kompetitif serta kontribusinya terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan