Media Kampung, Jember – Bahasa Isyarat Daerah (BISDA) Jember merupakan sistem komunikasi unik yang dihasilkan oleh komunitas Tuli di wilayah Jember. Melalui gerak jemari dan ekspresi wajah, BISDA tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga cerminan identitas budaya lokal yang khas dan berbeda dari bahasa isyarat di daerah lain.

Pengembangan BISDA Jember mendapat perhatian khusus dalam acara Suara Nusantara di PRO 1 RRI Jember pada 30 September 2026, yang menghadirkan tokoh penting di balik Kamus BISDA Jember, yaitu Asrorul Mais dan Lailil Aflahkul Yaum. Mereka menjelaskan bahwa penyusunan kamus ini didasari oleh kebutuhan mendokumentasikan bahasa isyarat lokal yang autentik serta merepresentasikan akulturasi budaya Pendalungan di Jember.

Proses Penyusunan Kamus BISDA Jember

Menurut Asrorul Mais, pembuatan kamus ini melibatkan riset mendalam dan partisipasi langsung komunitas Tuli dari 31 kecamatan di Jember. Hal ini bertujuan memastikan keberagaman ragam isyarat dapat dikumpulkan, didokumentasikan, dan disepakati secara bersama sehingga hasilnya representatif dan otentik.

Lailil Aflahkul Yaum menambahkan tantangan utama dalam penyusunan kamus adalah mentransformasikan gestur tiga dimensi menjadi bentuk visual cetak tanpa menghilangkan makna linguistik dan karakter tata bahasa BISDA yang mandiri. Penyelarasan dengan struktur Bahasa Indonesia formal juga menjadi bagian penting dalam proses editing.

Karakteristik Bahasa Isyarat Daerah Jember

BISDA Jember memiliki ciri khas yang dipengaruhi oleh budaya Pendalungan, menjadikannya berbeda dengan bahasa isyarat daerah lain. Contohnya, istilah untuk kecamatan Ajung yang disesuaikan dengan konteks lokal yakni keberadaan bandara sebagai ciri khas wilayah tersebut.

Manfaat dan Proyeksi Kamus BISDA

Kamus BISDA Jember bukan hanya sebagai arsip budaya, tetapi juga instrumen strategis untuk mendorong inklusivitas sosial. Diharapkan dapat digunakan di ruang publik, layanan pemerintah, fasilitas pendidikan, dan tempat umum lainnya di Kabupaten Jember guna membuka akses komunikasi yang setara bagi semua kalangan, khususnya komunitas Tuli.

Melalui kolaborasi antara akademisi dan komunitas, buku ini menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang ramah terhadap disabilitas dan mempromosikan nilai-nilai kebudayaan lokal.

Langkah Selanjutnya untuk Bahasa Isyarat Daerah Jember

Asrorul Mais menegaskan bahwa kamus ini harus terus dikembangkan dan diajarkan secara luas agar nilai budaya serta inklusivitas dapat tumbuh dan membumi di masyarakat. Saat ini, kamus memuat sekitar 700 kosa kata, namun masih banyak istilah khas Jember yang belum terakomodasi karena keterbatasan waktu dan anggaran.

Kesadaran bahwa setiap bahasa memiliki cerita dan setiap isyarat mengandung makna menjadi motivasi utama untuk terus merawat dan menyebarluaskan BISDA Jember sebagai bagian penting dari warisan budaya dan identitas lokal.

Wilayah terkait: Kabupaten Jember