Media Kampung – Panen Raya MT1 di Banyuwangi mencatat produksi 160.239 ton pada kuartal pertama 2026, menegaskan kembali peran daerah sebagai lumbung pangan nasional. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan musim sebelumnya.

Produksi tersebut berasal dari total luas lahan panen seluas 24.652 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan Kabupaten Banyuwangi. Luas lahan ini mencakup kebun sawah tradisional maupun modern yang dikelola oleh ribuan petani lokal.

“Rata-rata produktivitas padi petani mencapai 6,8 ton hingga 7 ton per hektare. Pemerintah kabupaten terus mendorong peningkatan produktivitas tersebut,” ujar Danang pada Senin (20/4).

Panen raya berlangsung hampir di seluruh kecamatan, termasuk di Dusun Salamrejo, Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, yang melaporkan hasil panen melimpah. Masyarakat setempat menyatakan kepuasan atas hasil panen yang melampaui target daerah.

Pada tahun 2025, total produksi beras Banyuwangi tercatat 546.923 ton, menghasilkan surplus sebesar 383.258 ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Surplus tersebut menjadi salah satu penyokong utama ketahanan pangan di tingkat provinsi.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan, “Alhamdulillah, kami bersyukur Banyuwangi menjadi salah satu daerah lumbung pangan nasional. Hasil panen para petani alhamdulillah baik,”

Keberhasilan produksi ini memperkuat posisi Banyuwangi sebagai lumbung pangan nasional, mendukung upaya pemerintah untuk memastikan ketersediaan beras bagi seluruh wilayah Indonesia. Dengan cadangan beras yang melimpah, provinsi dapat membantu daerah lain yang mengalami defisit produksi.

Pemerintah kabupaten terus mengintensifkan program penyuluhan, pemberian bibit unggul, dan subsidi pupuk untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas lahan. Upaya tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Peningkatan produksi beras memberikan dampak positif pada perekonomian lokal, karena pendapatan petani naik dan aktivitas perdagangan pangan di pasar tradisional pun meningkat. Selain itu, lapangan kerja di sektor pertanian dan pengolahan pasca panen turut bertambah.

Pihak Dinas Pertanian memperkirakan bahwa tren surplus akan kembali terjaga pada sisa tahun 2026, asalkan cuaca tetap bersahabat dan dukungan kebijakan tetap berlanjut. Target jangka panjangnya adalah mencapai produksi tahunan di atas 600.000 ton dalam lima tahun ke depan.

Saat ini, monitoring panen terus dilakukan secara real‑time melalui aplikasi pertanian berbasis cloud, memungkinkan respons cepat bila terjadi anomali cuaca atau serangan hama. Kondisi terkini menunjukkan stabilitas produksi, memberi keyakinan bahwa Banyuwangi akan tetap menjadi pilar ketahanan pangan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.