Media Kampung – Festival Janda Reni yang diselenggarakan di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, menjadi ajang penting untuk memperkenalkan kuliner khas daerah kepada wisatawan dan warga setempat. Acara ini masuk dalam kalender Banyuwangi Attraction dan berlangsung selama tiga hari pada akhir pekan terakhir bulan April.

Pemerintah desa bersama tokoh adat Lukman Hakim dan panitia lokal menggelar serangkaian kegiatan yang menonjolkan nilai budaya serta keunikan rasa. Sebanyak tiga puluh pedagang makanan tradisional berpartisipasi, menawarkan produk-produk yang dibuat secara otentik.

Lukman Hakim menjelaskan arti filosofis nama “Janda Reni” atau “Rondo Reni”. Menurutnya, “Reni” adalah bunga aren, sedangkan “janda” atau “rondo” melambangkan proses pemisahan, sehingga Janda Reni menggambarkan pemisahan bunga aren dalam proses pertanian.

Desa Banjar terletak di lereng gunung Ijen dan dikenal dengan sawah padinya serta produksi gula aren yang melimpah. Lanskapnya yang hijau menyerupai Ubud, Bali, menjadikannya latar yang menarik bagi para pengunjung festival.

Sego lemeng menjadi salah satu bintang kuliner yang ditampilkan, berupa nasi berbumbu yang dicampur daging ayam atau ikan, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu muda. Nasi tersebut dibakar selama empat jam hingga menghasilkan aroma harum dan tekstur lembut.

Proses pembuatan sego lemeng melibatkan penggunaan beras lokal, rempah tradisional, serta teknik pembakaran yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap porsi disajikan dengan sambal khas dan lalapan segar, menambah keanekaragaman cita rasa.

Kopi uthek menjadi pasangan sempurna bagi sego lemeng, dengan perpaduan kopi hitam dan gula aren yang disajikan terpisah. Pengunjung meneguk kopi terlebih dahulu, lalu menggigit gula aren sehingga menghasilkan sensasi pahit-manis yang unik.

Nama “uthek” diambil dari bunyi gula aren yang digigit, menandakan cara penyajian yang berbeda dari kopi pada umumnya. Teknik ini menekankan nilai ritual dan menghormati tradisi masyarakat Banjar.

Kepala Desa Banjar, Sunandi, menegaskan bahwa sego lemeng dan kopi uthek tidak sekadar makanan, melainkan simbol kehidupan. “Kopi uthek dengan gula aren melambangkan pahit dan manisnya hidup, sementara sego lemeng menjadi simbol kecukupan pangan,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Arbain, menyatakan kekagumannya atas suasana festival. “Saya senang bisa datang, selain kulinernya enak, masyarakatnya juga ramah,” katanya.

Festival juga menampilkan pertunjukan seni tradisional “Gontang Kawean” hasil kolaborasi antara Kampus ISI Surakarta kelas Banyuwangi dan Sanggar Sayu Wiwit. Penampilan tersebut menggabungkan musik, tari, dan cerita rakyat setempat.

Keberhasilan festival memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, meningkatkan penjualan produk pertanian dan kerajinan. Data sementara menunjukkan peningkatan pendapatan pedagang sebesar 35 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pihak panitia berencana menjadikan Festival Janda Reni sebagai agenda tahunan, dengan penambahan lebih banyak kuliner daerah dan kegiatan edukatif. Mereka juga akan melibatkan sekolah-sekolah untuk memperkenalkan nilai budaya kepada generasi muda.

Saat ini, desa Banjar terus menyambut wisatawan dengan protokol kesehatan yang ketat, memastikan pengalaman yang aman dan nyaman. Festival Janda Reni tetap menjadi platform utama untuk melestarikan dan mempromosikan warisan kuliner Banyuwangi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.