Media Kampung – 09 April 2026 | Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Projo) menegaskan pentingnya solidaritas nasional di tengah dinamika global yang semakin menekan kedaulatan negara. Ia menuturkan bahwa gelombang gejolak luar negeri kini berpotensi menimbulkan polarisasi dalam negeri bila tidak dikelola dengan bijak.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri wartawan, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan. Projo menekankan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan landasan strategis untuk menjaga stabilitas politik dan sosial.

Dalam sambutannya, ketua umum menyoroti fenomena penyebaran ujaran kebencian yang beredar di media sosial serta platform digital lainnya. Ia memperingatkan bahwa penyebaran informasi yang memecah belah dapat mempercepat proses adu domba antar kelompok.

Projo meminta semua elemen masyarakat untuk menolak segala bentuk provokasi yang berupaya memecah belah bangsa. Menurutnya, setiap warganegara memiliki tanggung jawab moral untuk menilai kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Ketua umum menambahkan, konteks global saat ini ditandai oleh ketegangan geopolitik, perubahan iklim, serta krisis ekonomi yang mempengaruhi banyak negara. Dampak tersebut tidak dapat dipisahkan dari kondisi domestik, sehingga diperlukan respons kolektif yang terkoordinasi.

Baca juga:

Ia mengingatkan bahwa Indonesia selama ini berhasil mempertahankan keutuhan wilayah dan kerukunan antar suku, agama, serta budaya. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari komitmen bersama dalam menolak provokasi eksternal maupun internal.

Pernyataan Projo juga menyinggung peran lembaga pendidikan dalam menumbuhkan rasa kebangsaan. Sekolah dan perguruan tinggi diharapkan menjadi arena kritis yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan menolak narasi yang memecah belah.

Selain itu, ketua umum mengajak organisasi keagamaan untuk bersama-sama menegakkan nilai toleransi. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan yang damai dapat menjadi benteng melawan upaya memecah belah.

Projo menekankan pentingnya koordinasi antara aparat keamanan dan masyarakat sipil. Sinergi ini dianggap krusial untuk mencegah aksi-aksi provokatif yang dapat memicu konflik.

Ia menuturkan, aparat kepolisian dan intelijen telah meningkatkan pengawasan terhadap jaringan penyebaran disinformasi. Namun, peran aktif warga tetap menjadi faktor penentu dalam menahan arus provokasi.

Dalam konteks ekonomi, ketua umum mengingatkan bahwa ketidakstabilan pasar global dapat memperparah ketegangan sosial. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang inklusif harus dijalankan untuk mengurangi potensi konflik.

Projo menyerukan pemerintah untuk memperkuat kebijakan sosial yang menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi rasa ketidakpuasan yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah.

Ketua umum menegaskan, tidak ada ruang bagi pihak manapun untuk memanfaatkan situasi krisis demi kepentingan sempit. Setiap langkah politik harus diarahkan pada kepentingan bersama, bukan pada kepentingan kelompok.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak semua partai politik untuk menjauhkan diri dari retorika provokatif. Dialog konstruktif di antara partai politik dianggap sebagai cara terbaik untuk menjaga stabilitas nasional.

Baca juga:

Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari sejumlah aktivis sosial yang menilai pentingnya pesan persatuan. Mereka menambahkan bahwa masyarakat perlu lebih selektif dalam menyaring informasi.

Beberapa pengamat politik menilai bahwa seruan Projo datang pada waktu yang tepat, mengingat meningkatnya aktivitas kampanye disinformasi. Menurut mereka, langkah proaktif seperti ini dapat mengurangi dampak negatif penyebaran hoaks.

Di sisi lain, pihak oposisi menilai seruan tersebut harus diiringi dengan tindakan konkret, bukan hanya kata-kata. Mereka menekankan pentingnya transparansi dalam kebijakan pemerintah untuk menghindari kecurigaan.

Projo menanggapi kritik tersebut dengan menekankan bahwa partai mereka telah menyiapkan program aksi nyata di lapangan. Program tersebut mencakup pelatihan literasi digital bagi pemuda dan kampanye anti-adu domba di media sosial.

Program literasi digital direncanakan akan dilaksanakan di sekolah-sekolah dan komunitas pemuda. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan analisis kritis terhadap informasi yang diterima.

Kampanye anti-adu domba akan melibatkan tokoh agama, budayawan, serta influencer media sosial. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam.

Pentingnya kerja sama lintas sektoral menjadi poin utama dalam strategi Projo. Sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta dianggap vital untuk mengatasi tantangan persatuan.

Ketua umum juga menyinggung peran media massa dalam menyajikan informasi yang objektif. Media diminta untuk menahan diri dari sensationalisme yang dapat memicu ketegangan.

Ia menambahkan bahwa media harus berperan sebagai penjaga fakta, bukan sebagai alat politik. Kebebasan pers tetap dijaga, namun dengan tanggung jawab profesional yang tinggi.

Baca juga:

Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, Projo menekankan bahwa Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip non-intervensi. Kebijakan luar negeri yang independen diyakini dapat melindungi kepentingan nasional.

Seruan ketua umum juga menyentuh aspek budaya, dengan menekankan nilai-nilai gotong royong sebagai fondasi persatuan. Nilai tersebut dianggap dapat memperkuat ketahanan sosial bangsa.

Dengan menutup pernyataannya, Projo menyatakan komitmen untuk terus memantau dan menanggapi segala bentuk provokasi. Partai akan tetap berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menjaga keamanan nasional.

Kesimpulannya, ajakan Projo menekankan bahwa persatuan bukan pilihan, melainkan keharusan bagi kelangsungan bangsa. Upaya bersama semua elemen masyarakat menjadi kunci utama mengatasi tantangan global dan domestik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.