Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026), sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia. IHSG naik 51,93 poin atau 0,92 persen ke posisi 5.695,12. Indeks LQ45 juga ikut naik 3,64 poin atau 0,66 persen ke 556,75.
Penguatan IHSG ditopang oleh sentimen positif dari kawasan Asia dan perkembangan hubungan Amerika Serikat dengan Iran. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, mengatakan bahwa menguatnya bursa regional Asia turut mendorong IHSG. Pasar saat ini menantikan perkembangan perundingan antara AS dan Iran di Doha, Qatar, meskipun mediator Qatar meredam ekspektasi akan terobosan besar.
Dari dalam negeri, kenaikan IHSG terjadi di tengah data ekonomi domestik yang lesu. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia turun tajam menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026, menandai kontraksi kedua sektor manufaktur tahun ini. Inflasi tahunan Juni 2026 tercatat 3,34 persen (year on year), lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik juga melaporkan neraca perdagangan defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, defisit pertama sejak April 2020.
Meskipun data domestik kurang menggembirakan, saham sektor energi dan komoditas berhasil menopang IHSG. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 10,39 persen, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 7,39 persen, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 5,10 persen. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga bangkit dengan kenaikan 0,90 persen.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidasi pada kisaran 5.600-5.800 dalam jangka pendek. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan perundingan AS-Iran dan data tenaga kerja AS yang akan dirilis Kamis (2/7).
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan