Media Kampung, Ottawa – KBRI Ottawa menggelar peragaan busana batik untuk memperingati Hari Batik Nasional sekaligus merayakan 17 tahun pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Acara ini berlangsung di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada, pada Jumat, 4 Oktober 2026. Sekitar 150 undangan hadir, termasuk anggota Parlemen Kanada, korps diplomatik ASEAN dan negara sahabat, pengusaha, serta pemangku kepentingan di Kanada.
Aula KBRI Ottawa disulap menjadi galeri sekaligus catwalk batik. Para tamu disambut dengan alunan gamelan Jawa, dan sejumlah di antaranya mengenakan pakaian batik. Acara dilanjutkan dengan penampilan kelompok angklung Indonesia Canadian Angklung Society (ICAS) yang membawakan dua lagu, termasuk ‘It’s Now or Never’ milik Elvis Presley.
Setelah penampilan tersebut, para tamu menyaksikan film pendek produksi KBRI Ottawa berjudul ‘Batik From Indonesia to the World’. Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, menegaskan bahwa batik memiliki akar yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Ia menyatakan bahwa nama dan teknik pembuatan batik adalah warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi.
“Izinkan saya menyampaikannya secara lugas, Batik adalah Indonesia. Indonesia dalam namanya, yang berasal dari bahasa Jawa, dan Indonesia dalam tekniknya, seni malam dan pewarnaan yang tekun, diwariskan dari generasi ke generasi selama berabad-abad,” tegasnya.
Muhsin menjelaskan bahwa batik bukan sekadar benda yang disimpan di museum, melainkan bagian dari berbagai tahapan kehidupan masyarakat Indonesia, dari kelahiran hingga pernikahan dan perpisahan. Batik juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, kantor, dan ruang pemerintahan.
Selain menjadi warisan budaya, batik juga memberikan penghidupan bagi hampir 200 ribu warga Indonesia yang bekerja di puluhan ribu bengkel kecil dan usaha keluarga, sebagian besar di antaranya dijalankan perempuan. Ia menekankan bahwa batik merupakan salah satu bentuk diplomasi Indonesia, mengingat batik pernah dikenakan oleh Perdana Menteri Kanada Jean Chretien dalam KTT APEC di Bogor pada 1994, dan juga oleh Perdana Menteri Justin Trudeau saat menghadiri KTT ASEAN di Jakarta pada 2023.
“Setiap kali, batik menyampaikan sesuatu yang tak mampu diungkapkan dalam komunike mana pun bahwa persahabatan dapat dikenakan, tidak hanya dituliskan,” tuturnya. Memasuki peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Kanada pada 2027, Muhsin mengajak masyarakat kedua negara untuk memaknai filosofi yang dimiliki para perajin batik.













