Media Kampung – Inggris tengah mempertimbangkan kenaikan tarif impor mobil listrik berbasis baterai (BEV) asal China, hingga sekitar 45 persen. Langkah ini mengikuti kebijakan Uni Eropa yang lebih protektif terhadap kendaraan listrik buatan Negeri Tirai Bambu. Rencana tersebut belum resmi diterapkan dan pemerintah Inggris masih melakukan konsultasi dengan industri otomotif sebelum mengambil keputusan, di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan tarif dapat memicu tindakan balasan dari China terhadap produk Inggris.

Saat ini, mobil listrik buatan China yang masuk Inggris dikenakan tarif impor sebesar 10 persen. Sementara itu, Uni Eropa menerapkan tambahan bea masuk anti-subsidi yang berbeda-beda berdasarkan produsen, di atas tarif dasar 10 persen. Dorongan untuk menaikkan tarif semakin kuat seiring pesatnya pertumbuhan merek China di pasar Inggris. Pada September 2026, merek China bahkan menyumbang lebih dari 20 persen penjualan mobil baru, dengan Jaecoo 7 menjadi model terlaris pada bulan tersebut dengan 10.813 unit.

Di sisi lain, Inggris menghadapi dilema karena industri otomotifnya sangat terintegrasi dengan pasar Eropa. Uni Eropa disebut mendorong Inggris untuk menyelaraskan kebijakan tarif agar kendaraan yang diproduksi di Inggris tetap mendapatkan perlakuan sebagai produk “Made in Europe” dalam rencana Industrial Accelerator Act. Pemerintah Inggris sendiri menegaskan bahwa keputusan mengenai tarif akan didasarkan pada kepentingan nasional. Jika diterapkan, kebijakan tersebut berpotensi membuat harga mobil listrik China di Inggris meningkat dan mengubah persaingan pasar yang selama ini semakin menguntungkan merek-merek China.