Media Kampung – Pertanyaan mengapa mobil listrik mogok di rel kereta muncul kembali setelah insiden taksi listrik Green SM di perlintasan Bekasi Timur pada 4 Mei 2026 menewaskan satu penumpang.

Insiden terjadi ketika kendaraan melintasi rel dan tiba‑tiba kehilangan tenaga, menabrak kereta komuter, sementara baterai utama tercatat masih penuh menurut data telemetri.

Agus Purwadi, pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, menjelaskan bahwa penurunan tegangan pada baterai 12 volt auxiliary dapat memutus aliran listrik ke sistem komputer dan sensor, sehingga kendaraan tidak dapat beroperasi meski baterai traksi tetap terisi.

Sistem high‑voltage interlock loop (HVIL) juga berperan sebagai fail‑safe; bila terdeteksi kebocoran arus atau sambungan kabel longgar akibat getaran kuat di rel, HVIL otomatis memutus aliran tinggi volt untuk mencegah bahaya kebakaran.

Beberapa ahli menyoroti kemungkinan medan elektromagnetik (EM) dari jalur kereta listrik mengganggu modul kontrol kendaraan, meskipun Yannes Martinus Pasaribu menegaskan bahwa mobil listrik modern telah lulus uji kompatibilitas elektromagnetik internasional seperti ISO 11451, ISO 11452, dan UNECE R10.

Pasaribu menambahkan, “Pengaruh medan magnet pada sistem elektronik mobil listrik sangat kecil, karena desain shielding yang ketat telah menjadi standar industri.”

Untuk mengurangi risiko, pengendara disarankan menurunkan kecepatan sebelum mencapai perlintasan, memeriksa indikator 12 V secara berkala, dan menghindari penggunaan perangkat listrik eksternal yang dapat menambah beban pada sistem auxiliary.

Jika kendaraan tiba‑tiba mati di rel, Agus Purwadi menekankan agar pengemudi tidak mencoba menyalakan kembali, melainkan mengaktifkan lampu darurat, menghubungi layanan bantuan, dan menghindari mendorong kendaraan karena rem otomatis tetap aktif.

Latar belakang kegagalan ini berakar pada konsep fail‑safe yang diterapkan pada kendaraan listrik: HVIL, isolasi baterai, dan proteksi arus berfungsi untuk melindungi penumpang, namun dapat menjadi penyebab kendaraan tidak dapat bergerak bila kondisi abnormal terdeteksi.

Pihak kepolisian dan KAI kini melakukan investigasi bersama tim teknis ITB dan ITA, serta menyiapkan rekomendasi perbaikan infrastruktur perlintasan, termasuk penyesuaian elevasi rel dan pemasangan sensor deteksi kendaraan mati.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa produsen taksi listrik Green SM telah menunda operasi di zona rawan rel sampai perbaikan selesai, sementara regulator transportasi berjanji meningkatkan standar inspeksi 12 V auxiliary pada semua kendaraan listrik yang melintasi perlintasan kereta.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.