Media Kampung – Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang pertandingan sepak bola, tetapi juga panggung bagi para suporter ikonik. Salah satu yang paling menonjol adalah Hector Chavez, penggemar super timnas Meksiko yang dikenal dengan sombrero hitam besarnya. Pria berusia 64 tahun yang akrab disapa “Caramelo” ini telah menyaksikan langsung 11 edisi Piala Dunia, termasuk edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Bagi Caramelo, Piala Dunia 2026 menjadi edisi ke-11 baginya. Ia mencatat telah menyaksikan 543 pertandingan timnas Meksiko sejak pertama kali mendampingi El Tri pada laga persahabatan melawan Uni Soviet, 19 Februari 1986. Di edisi kali ini, Caramelo didampingi putranya, Hector Chavez Jr. (21 tahun), yang akrab dipanggil “Caramelo Jr.” — ini menjadi Piala Dunia kelima bagi sang anak.
“Meksiko memiliki salah satu basis penggemar terbaik di dunia, salah satu yang paling sering bepergian ke pertandingan, dan salah satu yang paling penuh warna di dunia, dengan tradisi, identitas, dan kebanggaan,” ujar Chavez kepada The Associated Press. “Saya sangat beruntung berada di sini, dengan putra saya di sisi saya di Piala Dunia kelimanya, untuk terus mendukung tim nasional dengan semua yang kami miliki.”
Keluhan Harga Tiket Termahal Sepanjang Sejarah
Meski menjadi tuan rumah bersama, Caramelo mengaku harus berjuang ekstra keras untuk bisa hadir di stadion. Harga tiket yang melambung tinggi menjadi tembok besar bagi suporter setia. “Ini telah menjadi Piala Dunia termahal dalam sejarah, beberapa teman saya yang biasanya menemani saya tidak bisa datang,” ungkap Chavez. Faktor ekonomi membuat atmosfer tribun terasa berbeda dari edisi sebelumnya.
“Saya harus membongkar celengan, dan kami di sini dengan dukungan keluarga kami, karena tanpa dukungan ini hal itu tidak akan mungkin terjadi. Sebenarnya kami telah bekerja keras untuk berada di sini, tetapi akhirnya kami berhasil dan kami akan terus mengikuti tim nasional sampai akhir,” lanjutnya.
Chavez juga khawatir harga tiket yang mahal akan mengikis kehadiran suporter garis keras yang biasa menghidupkan suasana pertandingan. “Saya merindukan para penggemar berat yang mengikuti tim mereka, yang bernyanyi dan bersorak selama 90 menit penuh. Apakah Anda menyadari bahwa mereka bahkan tidak bisa membuat ombak penonton (Mexican wave) berjalan lagi? Dan mengapa demikian? Itu karena kita tidak memiliki para penggemar ini. Dan mengapa kita tidak memiliki para penggemar ini? Itu karena mereka tidak mampu membeli tiket yang mahal ini,” sesalnya setelah laga melawan Korea Selatan pada 18 Juni lalu.
Popularitas yang Menuai Kritik
Di balik ketenarannya, posisi Caramelo tidak luput dari pro dan kontra di kalangan publik Meksiko. Sebagian kritikus menilai aksinya di stadion terlalu berlebihan, dan beberapa fans merasa terganggu dengan aksinya melempar topi ke lapangan, termasuk saat laga Kolombia vs Uzbekistan di Mexico City. Menanggapi kritik, Hector Chavez Jr. memilih tetap berkepala dingin. “Ya, mereka mengatakan bahwa jika mereka mengkritik Anda, itu karena Anda melakukan sesuatu yang baik. Kami mencoba untuk tidak terlalu memperhatikannya. Kami lebih memilih untuk memegang teguh dukungan besar yang telah ditunjukkan para penggemar kepada kami secara langsung,” pungkas Caramelo Jr.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan