Media Kampung – 16 April 2026 | Artis Shenina Cinnamon mengumumkan kondisi terbaru calon bayinya setelah berhasil melewati fase kritis hyperemesis gravidarum, sementara istri Angga Yunanda sempat harus drop bolak‑balik ke rumah sakit selama beberapa minggu. Pengumuman tersebut disampaikan melalui unggahan Instagram pada 15 April 2026, menegaskan bahwa kesehatan janin kini berada dalam status stabil.
Shenina didiagnosa mengalami hyperemesis gravidarum pada trimester pertama, sebuah kondisi mual dan muntah berlebihan yang jauh melampaui morning sickness biasa. Gejala tersebut memaksa sang aktris masuk rawat inap di rumah sakit di Jakarta sebanyak tiga kali untuk mendapatkan cairan intravena dan pengobatan antiemetik.
Selama masa kritis, galeri Instagram Shenina dipenuhi foto-foto infus, muntah, serta proses opname, yang menggambarkan perjuangan fisik dan emosionalnya. Dalam keterangan yang diposting, ia menulis, “Setelah beberapa bulan gallery aku isinya foto-foto (muntah) dan keluar masuk RS sampai di‑opname beberapa kali karena hyperemesis gravidarum,” mengungkapkan betapa beratnya kondisi tersebut.
Tim medis memberikan terapi cairan elektrolit, vitamin, serta obat anti‑mual, sambil melakukan monitoring intensif melalui ultrasound untuk memastikan pertumbuhan janin tidak terhambat. Pemeriksaan terakhir menunjukkan denyut jantung janin dalam rentang normal dan tidak ada tanda-tanda komplikasi.
Setelah perawatan intensif, Shenina melaporkan perbaikan signifikan; ia kini dapat berjalan, menikmati makanan, dan kembali beraktivitas ringan. “Sekarang seneng banget dah mulai bisa jalan, makan makanan enak dan semoga bisa kembali beraktivitas normal! Bismillah dede bayi sehat terus, ya,” tulis Shenina dalam unggahan terbaru.
Angga Yunanda, suami Shenina, menanggapi dengan doa dan konfirmasi jenis kelamin bayi, menyatakan bahwa anak pertama mereka berjenis kelamin laki‑laki. “Sehat selalu istri cantik dan bayi ganteng,” tulis Angga di kolom komentar, menambahkan harapan agar sang buah hati tetap sehat sepanjang kehamilan.
Para ahli kebidanan menjelaskan bahwa hyperemesis gravidarum dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan penurunan berat badan ibu, sehingga pemantauan ketat diperlukan untuk mencegah dampak pada pertumbuhan janin. Dalam kasus Shenina, pemantauan rutin menunjukkan bahwa berat badan ibu tetap terjaga dan pertumbuhan janin berada pada kurva standar.
Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 0,5‑2 % wanita hamil di Indonesia mengalami hyperemesis gravidarum, dan penanganan medis dini dianggap kunci keberhasilan pemulihan. Kesadaran akan gejala yang berat serta akses cepat ke fasilitas kesehatan menjadi faktor penentu bagi ibu hamil seperti Shenina.
Dengan kondisi kini stabil dan janin terdeteksi sehat, Shenina dan Angga menantikan kelahiran bayi mereka yang diperkirakan pada akhir September 2026. Keluarga kecil tersebut mengakhiri periode sulit dengan harapan besar dan dukungan luas dari para penggemar serta rekan industri hiburan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan